"Dihukum seberat-beratnya dan mengaku kesalahan," kata sang ayah, Ahmad Syaifuddin, di kediamannya, Jl Pasar Baru Barat I, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakpus, Senin (4/2/2013).
Meski begitu, Ahmad tak ingin IA dihukum mati. Dia belum tahu apa motif pembantu sekaligus pengasuhnya tersebut membunuh anak bungsunya.
"Kalau anak saya rewel selama ini jarang rewel, dia cuman nangis kalau laper, dikasih susu udah diam, tidur," terangnya.
Ahmad juga menegaskan, Rasya hanya menangis saat usai imunisasi. "Jadi bukan pembantunya, saya yakin pasti ada orang kedua. Mungkin kalau saya lihat ada cinta segitiga," imbuhnya.
Awal pembunuhan itu diduga dilakukan oleh perampok yang menyatroni rumah tesebut. Namun belakangan, pembunuh sang anak adalah pembantunya sendiri. Dia melakukan aksi itu karena tak tahan mendengar suara tangisan Rasya.
(mad/nwk)











































