Tolak Jembatan, Marzuki Ingin 'Pelabuhan' Rakitnya di Bukit Duri Dipercantik

Tolak Jembatan, Marzuki Ingin 'Pelabuhan' Rakitnya di Bukit Duri Dipercantik

- detikNews
Sabtu, 02 Feb 2013 15:52 WIB
Tolak Jembatan, Marzuki Ingin Pelabuhan Rakitnya di Bukit Duri Dipercantik
(foto: detiknews)
Jakarta - Rakit bambu menjadi andalan warga Kampung Pulo dan Bukit Duri untuk menyeberang Sungai Ciliwung. Perlu perjuangan yang tak mudah untuk bisa menjangkau 'pelabuhan' rakit ini.

Untuk sampai di bibir sungai dari sisi Bukit Duri, Tebet, Jakarta Timur, warga harus melewati gunungan sampah yang baunya menyengat. Apalagi jika musim hujan seperti saat ini, permukaan tanah yang menurun menjadi becek dan membahayakan siapa saja yang melintas.

Tepat di bibir sungai, terdapat karung-karung yang berisi pasir untuk pijakan kaki saat naik atau turun dari rakit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sederhana, tapi jadi andalan. Rakit bambu buatan sendiri ini panjangnya mencapai 15 meter. Penumpangnya mulai dari ibu-ibu yang akan ke pasar sampai anak-anak sekolahan. Sekali menyeberang, setiap penumpang hanya harus membayar Rp 500.

"Nggak takut, sudah biasa setiap hari naik rakit ke sekolah," kata Lala (12) siswi SD Bukit Duri saat turun dari rakit.

Pantauan detikcom, Sabtu (2/2/2013), gerimis mengguyur Sungai Ciliwung. Aliran air sungai yang kecoklatan tampak deras. Tampak Marzuki, pengojek rakit bambu masih sibuk melayani warga yang ingin menyeberang.

Lalu, apakah warga menginginkan jembatan?

"Jangan (dibangun jembatan), sudah pakai rakit saja nggak apa-apa. Nanti kalau bangun jembatan pasti ada yang diusir," ujar salah seorang penumpang rakit yang juga warga Kampung Pulo, Jaka (49).

Punya harapan yang sama, Marzuki mengatakan bahwa dirinya meminta pemerintah tetap memperhatikan nasibnya sebagai pengojek rakit.

"Nanti kalau ada jembatan, saya kerja apa? lebih baik, jalanan untuk turun ke sini dirapikan. Sampah-sampah dibersihkan, pinggir-pinggir sungai dibuat bagus. Biar yang mau naik rakit bisa turun nggak bahaya," usul Marzuki.

Selain itu Marzuki berharap suatu saat bisa mengganti rakitnya dengan perahu. "Ada atapnya kan lebih aman, kalau hujan nggak kehujanan," lanjutnya sambil menyandarkan rakitnya di pasak bambu di bibir sungai.





(/ndr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini