Untuk sampai di bibir sungai dari sisi Bukit Duri, Tebet, Jakarta Timur, warga harus melewati gunungan sampah yang baunya menyengat. Apalagi jika musim hujan seperti saat ini, permukaan tanah yang menurun menjadi becek dan membahayakan siapa saja yang melintas.
Tepat di bibir sungai, terdapat karung-karung yang berisi pasir untuk pijakan kaki saat naik atau turun dari rakit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggak takut, sudah biasa setiap hari naik rakit ke sekolah," kata Lala (12) siswi SD Bukit Duri saat turun dari rakit.
Pantauan detikcom, Sabtu (2/2/2013), gerimis mengguyur Sungai Ciliwung. Aliran air sungai yang kecoklatan tampak deras. Tampak Marzuki, pengojek rakit bambu masih sibuk melayani warga yang ingin menyeberang.
Lalu, apakah warga menginginkan jembatan?
"Jangan (dibangun jembatan), sudah pakai rakit saja nggak apa-apa. Nanti kalau bangun jembatan pasti ada yang diusir," ujar salah seorang penumpang rakit yang juga warga Kampung Pulo, Jaka (49).
Punya harapan yang sama, Marzuki mengatakan bahwa dirinya meminta pemerintah tetap memperhatikan nasibnya sebagai pengojek rakit.
"Nanti kalau ada jembatan, saya kerja apa? lebih baik, jalanan untuk turun ke sini dirapikan. Sampah-sampah dibersihkan, pinggir-pinggir sungai dibuat bagus. Biar yang mau naik rakit bisa turun nggak bahaya," usul Marzuki.
Selain itu Marzuki berharap suatu saat bisa mengganti rakitnya dengan perahu. "Ada atapnya kan lebih aman, kalau hujan nggak kehujanan," lanjutnya sambil menyandarkan rakitnya di pasak bambu di bibir sungai.
(/ndr)










































