"Pertarungan Ical dan Paloh juga merupakan pertarungan adu gengsi. Paloh merasakan betul pahitnya ketika dikalahkan Ical di munas Golkar, dan tentu akan berambisi untuk mengalahkan Ical pada pilpres 2014. Sementara Ical juga yakin dengan kekuatan politik Golkar yang akan mendukungnya," ujar Pengamat Politik Charta Politika Arya Fernandes saat berbincang, Rabu (30/1/2013).
Menurut Arya, pertarungan Ical dan Paloh semakin menarik karena NasDem adalah satu-satunya partai politik baru yang lolos sebagai peserta pemilu 2014 dan secara umum basis politik NasDem berasal dari daerah-daerah yang dulu merupakan basis Golkar. Selain itu beberapa elit NasDem sebelumnya adalah elit partai Golkar.
"Faktor yang tak kalah menariknya adalah positioning Ical dan Paloh. Keduanya adalah pengusaha yang memiliki jaringan bisnis media dan sama-sama menjadi ketua umum partai. Keduanya juga berasal dari Sumatera dan sama-sama pernah membangun karir politik di Golkar, serta keduanya sama-sama pernah berada di Kadin," ungkapnya.
Selain itu performa kedua partai tengah menanjak. NasDem berhasil masuk kejajaran partai menengah, sementara Golkar berhasil merajai partai papan atas. Kekhawatiran Ical terhadap Paloh karena NasDem berpotensi mencuri suara di lumbung Golkar dan NasDem dikhawatirkan juga dapat menjadi poros tengah yang menghimpun sejumlah partai untuk berkoalisi.
"Hal itu tentu akan menyulitkan bagi Ical untuk menggaet partai-partai menengah dalam koalisi pilpres. Namun, konflik yang terjadi di internal NasDem bisa menguntungkan Ical dan Golkar. Ical bisa saja menawarkan posisi yang strategis di Golkar bagi pentolan-pentolan NasDem," paparnya.
(ega/ega)











































