"Polisi harus mencari dan menahan pelakunya. Kekerasan jangan sampai jadi ciri polisi terhadap pendemo," jelas aktivis HAM Usman Hamid dalam keterangannya, Selasa (29/1/2013).
Usman yang juga mantan Koordinator Kontras ini menuturkan, kekerasan tak bisa dibenarkan. Jangan sampai oknum polisi menjadi dibenarkan untuk bersikap brutal pada pendemo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polis harus memberi bukti. Bahwa polisi mencintai rakyatnya, apalagi unjuk rasa yang dilakukan adalah unjuk rasa petani. "Jangan sampai polisi dicap tak membela rakyat," sindir Usman.
Diketahui aksi ratusan petani dan aktivis lingkungan hidup ke Markas Polda (Mapolda) Sumsel, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, sore tadi, berakhir bentrok. Sekitar 25 pendemo diamankan, termasuk Direktur Walhi Sumsel Anwar Sadat, yang kepalanya terluka akibat pukulan benda tumpul.
Massa berasal dari Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumsel, Serikat Petani Sriwijaya (SPS), Persatuan Pergerakan Petani Indonesia (P3I), dan Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumsel bersama Walhi Sumsel.
"Kami diserang ratusan polisi, ya, setelah pagar pintu gerbang Polda roboh," kata Anwar Sadat yang saat ini tengah diperiksa pihak Polda Sumsel.
"Ada puluhan yang ditahan. Bersama saya sekitar 12 orang, tapi ada yang diperiksa di tempat lain," katanya.
Robohnya pintu pagar Mapolda Sumsel sekitar pukul 17.20, dan tak lama kemudian polisi yang berjaga melakukan pengamanan dengan mengejar dan menangkapi para pengunjukrasa.
(ndr/gah)











































