Atasi Banjir DKI Paling Ruwet: Relokasi Warga Bantaran Kali & Waduk

Atasi Banjir DKI Paling Ruwet: Relokasi Warga Bantaran Kali & Waduk

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Selasa, 29 Jan 2013 15:06 WIB
Atasi Banjir DKI Paling Ruwet: Relokasi Warga Bantaran Kali & Waduk
Waduk Pluit yang penuh sampah (Foto: Hasan Al Habsy)
Jakarta - Pemerintah kini melakukan langkah-langkah teknis terkait banjir, mulai dari pengerukan sungai hingga latihan tanggap darurat banjir. Namun diakui yang paling ruwet dan kompleks adalah merelokasi warga yang mempersempit saluran kali dan waduk.

"Kami juga bekerja sama dengan DKI Jakarta untuk dengan PU juga memperbaiki lahan yang selama ini bebas dari penduduk yah. Kemarin kita menyarankan agar kalau kita ingin solusi yang konkret seperti yang ada bilang itu maka mestinya juga ada langkah-langkah untuk relokasi dari masyarakat. Tapi kan kita juga tahu masyarakat tidak semudah yang kita bayangkan," jelas Kepala BNPB Syamsul Maarif ketika ditanya langkah teknis dalam mengatasi banjir Jakarta.

Hal itu dikatakan Syamsul usai perayaan HUT BNPB di Mabes Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (29/1/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam hal relokasi warga, imbuhnya, Presiden SBY telah memerintahkan untuk menyerahkannya pada kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi.

"Gubernur sendiri mengatakan bahwa beliau juga mempunyai jurus-jurus tertentu yang sudah berhasil diterapkan di Solo pada saat itu, kemungkinan juga akan dilakukan di sini," jelas dia.

Pihak-pihak yang menyalahgunakan tanggul sungai dan merusak Kali Ciliwung, harusnya diberi perlakuan khusus agar mau dipindahkan. Warga di bantaran kali dan waduk ini sudah telanjur memiliki ikatan karena sudah ada yang tinggal puluhan tahun.

"Terutama mengapa mereka mau tinggal di situ itu persoalannya karena saya tanya kepada mereka ada yang tinggal sampai 23 tahun, ada yang 20 tahun, juga ada yang baru tinggal. Nah ini harus kita pikirkan karena apa yah istilahnya, keterikatan manusia dengan tempat tinggalnya itu memang tidak bisa diukur," tuturnya.

Jadi, harus dilakukan musyawarah mufakat dengan warga di bantaran kali. Bila tidak, maka warga bisa saja kembali lagi menghuni bantaran kali. Relokasi ini juga demi kepentingan masyarakat banyak.

"Masyarakat sungai sendiri sudah mempunyai kesadaran akan daya adaptasi mereka. Cuma masalahnya, bukan kita memikirkan masyarakat yang di pinggir Ciliwung saja, tetapi juga bagaimana agar mereka berada di sekitar situ tidak merugikan masyarakat yang lain. Jadi ini yang penting saya pikir. Ini bukan persoalan yang sekedar kesadaran untuk menyelamatkan diri sendiri tetapi juga kesadaran menyelamatkan keselamatan orang lain," tuturnya.

(nwk/trw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini