Hadapi Demonstran, Hakim Agung Djoko Sarwoko Bawa Tombak 'Empu Barada'

Biografi 'Toga 3 Warna'

Hadapi Demonstran, Hakim Agung Djoko Sarwoko Bawa Tombak 'Empu Barada'

Andi Saputra - detikNews
Senin, 28 Jan 2013 17:14 WIB
Hadapi Demonstran, Hakim Agung Djoko Sarwoko Bawa Tombak Empu Barada
Djoko Sarwoko memegang keris (buku Toga 3 Warna)
Jakarta - Bagaimana pejabat publik menghadapi aksi demonstran yang tidak terkendali? Hakim agung Djoko Sarwoko punya trik sendiri. Dia menyelipkan tombak Empu Barada di balik jasnya.

"Ketika menghadapi demonstrasi Ikatan Pegawai Mahkamah Agung (MA), Sekjen MA ketika itu Pak Pranowo berteriak-teriak namun tak digubris oleh para pegawai," kata Djoko Sarwoko.

Hal ini dituangkan dalam biografi 'Toga 3 Warna' halaman 50 seperti dikutip detikcom, Senin (28/1/2013). Buku edisi terbatas ini dicetak oleh Pustaka Dunia dengan ketua tim penulis Sekretaris MA Nurhadi, sebagai salah satu tanda mata purnatugas Djoko Sarwoko pada 1 Januari 2013 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lantas aku datang, para pegawai diam. Mereka mendengarkan ketika aku bicara. Saat itu aku membawa Empu Barada yang aku selipkan di balik jas. Dari semua keris dan tombak yang aku miliki, Empu Barada yang masih memiliki aura," sambung mantan Ketua Muda MA bidang Pidana Khusus ini.

Tombak tersebut berukuran kecil, sepanjang 30 cm. Ukurannya yang mini membuatnya bisa dimasukkan ke dalam koper. Djoko pernah membawa Empu Barada dan lolos metal detector.

"Selain itu aku juga memiliki keris-keris yang lain baik yang berasal dari pemberian orang seperti Keris Sengkelat dari mantan Bupati Wonogori, Begug Poernowo Sidi. Beberapa di antaranya kubeli sendiri," ujar hakim yang juga pernah menjadi Ketua Muda MA bidang Pengawasan ini.

Djoko juga menerima keris warisan dari ayahnya, Guling Mataram. Keris tersebut dipercaya dibuat pada zaman Kerajaan Mataram dan pernah digunakan untuk berperang. Adapun ibunya mewariskan sebilah pisau kecil yang dapat dimasukkan ke saku atau disebut cundrik.

"Menurut ibuku, cundrik itu selalu dibawa ketika tengah malam harus mengairi sawah atau pergi ke pasar. Para perampok kabur jika cundrik itu diperlihatkan," kisah Djoko.

Dimanakah cundrik itu sekarang?

"Raib, entah ke mana," cerita Djoko di buku setebal 400 halaman ini.

(asp/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads