"Secara umum, kebanyakan orang menganggap ritual yang kujalani pada masa itu sebagai tradisi kejawen. Entah apa sebutannya yang tepat namun memang aku dekat dengan hal-hal yang berbau mistis, klenik dan kejawen," kata Djoko Sarwoko.
Hal ini dituangkan dalam biografi 'Toga 3 Warna' halaman 49 seperti dikutip detikcom, Senin (28/1/2013). Buku edisi terbatas ini dicetak oleh Pustaka Dunia dengan ketua tim penulis Sekretaris MA Nurhadi, sebagai salah satu tanda mata purnatugas Djoko Sarwoko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua orang yang tak kasat mata tersebut diakui Djoko selalu mengawal di depan dan belakangnya. Perawakannya tinggi besar. Namun Djoko tidak merinci dalam buku tersebut, siapa yang dimaksud tersebut.
"Ruang kerjaku tak lepas dari aroma mistis," papar pria kelahiran 21 Desember 1943 ini.
Djoko menurutkan, di ruang kerjanya terdapat sebuah gambar macan tergantung di dinding. "Percaya atau tidak, macan itulah yang menjaga ruanganku," cerita Djoko.
Menurut Djoko, tidak ada satu pun stafnya yang berani masuk ruangan sebelum dia datang. Pada suatu hari, seorang stafnya mendengar orang batuk dari dalam ruangan. Tetapi tidak lama kemudian, Djoko datang.
"Loh, tadi suara batuk dari ruangan Bapak. Kalau Bapak baru datang berarti siapa yang berada di dalam tadi?" kisah Djoko menirukan pertanyaan stafnya.
Atas pertanyaan ini, Djoko pun tersenyum tak menanggapi.
(asp/nrl)










































