Kompleks Militer, Lokasi Kebocoran Listrik Paling Besar
Selasa, 28 Sep 2004 15:41 WIB
Semarang -
Sudah sering terdengar kabar, PT PLN merugi. Setelah diteliti, ternyata banyak orang mengambil listrik tanpa bayar alias mencuri. Setelah diteliti lagi, kebocoran listrik paling besar berada di kompleks militer.Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mencontohkan, di Jakarta kebocoran paling besar ada di Kramat Jati. Daerah tersebut merupakan kompleks militer."Benar. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga di seluruh Indonesia. Di sekitar kompleks militer itu listrik PLN bocor," kata Tulus meyakinkan wartawan seusai Forum Dialog Konsumen Listrik di Gedung Dharma Wanita Jateng, Jl.Menteri Supeno Semarang, Selasa, (28/9/2004).Karena itu, kata dia, PT PLN selalu bekerja sama dengan aparat kepolisian dalam melakukan Operasi Petir. Dirinya menduga jika sendirian, PT PLN tidak berani menindak penghuni kawasan sekitar kompleks militer.Lebih lanjut Tulus menjelaskan, saat ini secara nasional kebocoran listrik mencapai angka 16%. Kalau dikalkulasi, 1% sama harganya dengan 600 miliar rupiah. Sehingga total kerugian akibat pencurian itu mencapai Rp 3 triliun per tahun. Kebocoranlah penyebab utamanya.Tulus juga mengakui bahwa kinerja PLN tidak begitu bagus. Perusahaan persero ini sering ceroboh dalam mengatasi keterbatasan SDM dan dana. Mereka juga tidak becus merawat mesin pembangkit setingkat PLTD dengan menempatkan orang lulusan STM sebagai operatornya."Mesin pembangkit itu hanya dirawat secara teknis. Tapi tidakdi-manage. Akibatnya, mesin itu aus sebelum waktunya, dan hal itu mengganggu kenyamanan konsumen," katanya berapi-api.PLN, lanjutnya, juga kurang antisipatif dalam membaca pergerakan situasi. Pada saat musim kering dan air waduk mengering, mereka seharusnya mempersiapkan diri. Tapi ternyata tidak. Sehingga mereka kewalahan begitu musim kering bergulir."Mereka kan bisa kerja sana dengan captive power. Dengan lembaga swasta pembangkit listrik yang ada di setiap kota itu, harusnya mereka bisa memperbaiki layanan kepada konsumen," demikian Tulus Abadi.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
