"Secara scientific belum bisa dikatakan seperti itu, tapi secara umum memang hasil dari upaya kemarin," ujar peneliti Meteorologi Tropis di BPPT yang juga Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan UPT Hujan Buatan, Dr Tri Handoko Seto, kepada detikcom, Senin (28/1/2013).
Tri menjelaskan, dengan upaya modifikasi cuaca kemarin, awan di sebelah barat Jakarta telah dihujankan terlebih dahulu sebelum masuk area Jakarta sehingga tidak ada kelembapan yang dibawa awan hingga pagi ini. "Makanya pagi ini menjadi kering," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, terik matahari pagi hingga siang ini tidak boleh diremehkan. Tri mengatakan bahwa terik matahari di pagi hari justru memicu pembentukan awan. "Terik bukan berarti aman, ada kelembapan yang tinggi dan memicu pembentukan awan," tuturnya.
Untuk itu, upaya modifikasi cuaca yang dilakukan BPPT bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan terus dilakukan setiap hari hingga pertengahan Februari mendatang.
"Kita nggak mau ambil resiko, karena puncak musim hujan memang diprediksi sampai pertengahan Februari. Setiap hari, dua kali sehari dengan kemampuan maksimum pesawat kita," ujar Tri.
Modifikasi cuaca itu dilakukan dengan menyemai bubuk NaCl di awan. Garam diangkut menggunakan sejumlah pesawat terbang dari Halim Perdanakusumah.
(/nrl)










































