6 Aksi Jokowi Beri 'Kuliah Lapangan' untuk Anak Buah

6 Aksi Jokowi Beri 'Kuliah Lapangan' untuk Anak Buah

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Senin, 28 Jan 2013 10:36 WIB
6 Aksi Jokowi Beri Kuliah Lapangan untuk Anak Buah
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) ingin menularkan virus blusukan ke jajarannya. Dengan begitu, permasalahan pelik segera diketahui dan teratasi. Ia bahkan selalu memberikan 'kuliah lapangan'.

Jokowi tidak kenal lelah keluar masuk kampung Ibukota untuk mengetahui langsung keluh kesah warganya. Ia bahkan mengikutsertakan warga Jakarta bersama-sama mencari solusi permasalahan.

Suami Iriana ini turun tangan langsung langsung memberi contoh dan pengarahan kepada staf-stafnya agar dapat melayani masyarakat dengan hati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut 6 aksi Jokowi saat memberikan contoh kepada anak buahnya:

1. Cek Gunung Sampah Tiap Hari

Sampah-sampah menggunung menghiasi kali dan pemukiman warga Jakarta usai bencana banjir. Jokowi mengaku tiap hari mengecek pengerukan sungai dan akan menambah armada truk sampah.

Pengamatan detikcom, Minggu (27/1/2013), Jokowi naik ke gunungan sampah yang baru diangkat dari Kali Bakti, tepatnya di persimpangan Jalan Pakin dan Gedong Panjang, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Jokowi menyeberang Jalan Gedong Panjang, di pinggir sungai, terlihat gunungan sampah menumpuk setinggi 1 meter lebih sepanjang 20 meter. Sampah terlihat mulai dari sampah plastik, potongan besi hingga karung goni.

Tanpa ba-bi-bu, Jokowi naik ke gunungan sampah itu. Sampah itu siap diangkut oleh 1 truk sampah.

"Nggak bau di situ Pak?" tanya salah satu warga.

"Saya tiap hari ngecek ke sini, saya tahu. Ini mau nambah truk sampah, tahun ini kira-kira 150 truk diremajakan. Ini masih kurang truk memang, ini masih perlu kita bersihkan total," jawab Jokowi.

Nah...saat memberikan pengarahan ke jajarannya, Jokowi pernah memamerkan foto hasil jepretannya dan minta masalah sampah segera diatasi.

Jokowi menampilkan gambar gunungan sampah yang menghiasi pintu air, stasiun dan terminal salah satunya di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.

"Sampahnya sampai ada kasur, ada sofa. Jadi tolong dibersihkan. Mana Sudin Kebersihan? Coba dilihat, dicatat," perintah Jokowi.

2. Kerja Bakti Sedot Air

Jokowi tak segan berbecek-becek ria di perkampungan Muara Baru yang masih terendam banjir semata kaki.

Pantauan detikcom, Minggu (27/1/2013), Jokowi masuk ke Gang 8 di Jalan Raya Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

"Pasca banjir, kampung dibersihkan. Ini di Muara Baru sedang dibersihkan, ini mau nyedot ini (air) dulu. Semua turun, kepala dinas juga turun kok. Biar cepat rampung," kata Jokowi pada warga.

Masa tanggap darurat banjir tanggal 17-27 Januari 2013. Bila perlu diperpanjang, maka akan diperpanjang.

Jokowi menambahkan, pengungsi banjir per hari ini sudah habis, karena kembali ke rumah masing-masing. "Pengungsi hari ini sudah tidak ada ini, sudah saya cek. Kemarin tinggal 1.900, sekarang sepertinya sudah habis," jelas dia.

3. Ajari Buat Sumur Resapan

Jokowi memberi contoh pembangunan sumur resapan di halaman kantornya di Balai Kota untuk mencegah banjir. Bangunan di Jakarta akan diaudit.

"Saya hanya ingin berikan contoh sumur resapan yang benar," ujar Jokowi di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2013).

Menurut Jokowi, ada 8 sumur resapan yang akan dibuat di Balai Kota. Sumur resapan mampu bertahan selama 300 tahun. Sumur tersebut dibuat dengan kedalaman 4 meter dan diameter 1 meter.

Jokowi mengancam kantor, bank, perumahan mal dan apartemen di Jakarta yang tidak membangun sumur resapan akan ditutup. Pihaknya akan mengecek hal itu.

"Semuanya nanti kita audit. Audit bangunan benar-benar kita lakukan setelah banjir. Baik di perumahan, mall, kantor, semuanya harus pakai sumur resapan sekarang," kata Jokowi.

Jokowi segera mengeluarkan peraturan gubernur (pergub) soal sumur resapan. "Ada pergub, saya akan buat pergub lagi," ujar Jokowi.

4. Pengarahan Dadakan

Jokowi akan mengumpulkan camat dan lurah seluruh Jakarta untuk mengajari cara-cara melayani warga. Pengarahan ini bakal dilakukan secara mendadak.

"Mungkin besok akan kita kumpulkan. Itu kan sampling saja. Kalau sampling itu sudah kelihatan saya kira," kata Jokowi di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (23/10/2012) usai sidak ke 4 kantor kecamatan dan kelurahan yang masih kosong pada pukul 08.00 WIB.

Jokowi yang mengenakan jas hitam, dibalut kemeja putih, dasi coklat dan celana bahan warna hitam ini menuturkan, dirinya akan memberikan pengarahan bagaimana lurah dan camat memberikan pelayanan pada masyarakat. Dalam sidaknya hari ini, terlihat pelayanan pada warga belum maksimal.

"Semuanya akan saya jelaskan bagaimana sih melayani yang baik. Ya nantilah, ini kan dadak-dadakan. Ada perencanaan, tapi tidak bisa saya sampaikan," tuturnya.

Jokowi sengaja datang ke kantor lurah dan camat secara mendadak. Tujuannya agar pihak yang dikunjungi tidak siap-siap. "Jangan ngomong agenda nanti mereka siap-siap," kata Jokowi.

5. Komunikasi Efektif

Jokowi memerintahkan walikota, camat dan lurah untuk mengetahui stok batu dan pasir, alat-alat berat, pompa sedot. Komunikasi efektif menjadi kuncinya.

"Sehingga saat di telepon bisa datang," kata Jokowi saat rapat koordinasi dengan 5 walikota, 26 camat dan 75 lurah membahas normalisasi kali untuk mengatasi banjir. Rapat koordinasi digelar di Balai Agung, Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2013)

Dengan kesiapan seperti di atas, lanjut Jokowi, pihaknya tidak perlu menunggu hingga setengah hari agar barang-barang yang diperlukan datang. Selain itu, komunikasi di lapangan harus intensif dilakukan.

"Lurah bisa mengadu ke saya, camat nggak usah takut. Bisa telepon ke saya kalau ada hal yang sangat penting. Walikota juga, agar tidak terlambat dan yang paling penting bahwa korban banjir harus diutamakan, rakyat, manusia itu harus yang diutamakan," ucap Jokowi yang mengenakan kemeja sadariah, kalung sarung merah dan peci hitam ini.

Saat tanggul Kali Ciliwung di Jl Latuharhary jebol pada 17 Januari, Pemprov DKI Jakarta mendatangkan batu dan pasir hingga ke Karawaci, Tangerang. Untuk mendatangkan pun harus dikawal aparat polisi dan Dishub karena situasi jalan yang terhambat banjir dan macet.

Dalam kesempatan lain, Jokowi meminta agar tanggul-tanggul diamankan dengan karung pasir agar kasus tanggul jebol Latuharhary tidak terulang lagi.

"Itu tanggul yang dikhawatirkan jebol karung pasirnya Pak Ery disiapkan, jangan sampai seperti Latuharhary," ujar Jokowi kepada seluruh camat dan walikota di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (20/1/2013).

Walikota Jakarta Timur H Krisdianto sebelumnya melaporkan ada tanggul yang rawan jebol di Kampung Pulo. Krisdianto meminta pengarahan Jokowi untuk mengantisipasi tanggul jebol.

Jokowi menegaskan agar karung pasir harus distok sebanyak-banyaknya. Karung pasir ini digunakan agar air tidak meluber kemana-mana. "Pasir dalam karung agar disiapkan secepatnya, sebanyaknya. Di tempat yang gampang diambil dan gampang pendistribusiannya," kata Jokowi.   

6. Coret Pola Lama

Jokowi berpendapat bantuan bagi korban banjir sangat berlimpah. Namun, bantuan itu justru masih menumpuk di posko-posko banjir di Ibukota terutama bantuan logistik.

"Ini pola lama. Kalau datang bantuan ditumpuk. Dua hari ini, saya perintahkan bantuan langsung diberikan ke masyarakat, biar masyarakat senang. Sudah menderita, bantuan hanya lihat truk bolak-balik, lihat bantuan menumpuk di posko. Masyarakat ngomong ke saya," kata Jokowi usai menerima bantuan dari Mayapada Group di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (25/1/2013).

Jokowi memerintahkan bantuan segera disalurkan. "Nggak ada stok-stokan, langsung bagi masyarakat, merasakan kalau ada bantuan. Problem lapangan itu, karena saya dengar langsung dari masyarakat," ujar Jokowi yang terbalut baju batik warna coklat itu.

Jokowi akan memanggil pengelola posko-posko banjir. "Ini masalah keposkoan, cara-cara manajemen barang. Itu kenapa saya turun sendiri untuk menutup itu. Mosok ada yang kurang, pusing juga ngatasinya. Ke depan perbaiki polanya. Jangan berpikir takut kehabisan stok. Kalau kurang kontak lagi," papar suami Iriana ini.
Halaman 2 dari 7
(aan/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini