Ketua Gerakan Mahasiswa Pembebasan daerah Semarang (Gempar) Ridwan Mansyur mengatakan kenaikan TDL akan memberikan efek domino di kemudian hari. Karena TDL akan berdampak juga pada harga produk-produk lainnya.
"Jelas akan merugikan, hal itu akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa. Termasuk pada sektor industri," kata Ridwan saat beraksi di bekas videotron, Jl Pahlawan, Semarang, Rabu (23/1/2013).
Kenaikan TDL yang dikenakan terhadap pelanggan rumah tangga di atas 900 VA dan beberapa sektor industri itu akan merugikan sektor industri Indonesia sudah masuk pasar bebas.
"Nantinya akan kalah dengan industri dengan luar negeri karena beban dalam negeri sendiri malah justru ditambah," papar Ridwan.
Seharusnya pemerintah bisa tidak menaikkan TDL dengan beberapa solusi lain, misalnya menggunakan tenaga batu bara atau gas karena, lanjut Ridwan, selama ini masih pembangkit listrik di Indonesia sebagian besar bergantung pada bahan bakar minyak.
"Namun saat ini malah Indonesia menjual bahan bakar gas ke China dengan harga 3 USD per metrik ton, sementara di dalam negeri harus membeli seharga 15 USD. Ini salah," tegas Ridwan.
"Ini bisa menyebabkan inflasi di kemudian hari," imbuhnya.
Puluhan mahasiswa tersebut melakukan unjuk rasa dengan berorasi dan membentangkan poster bernada menolak kenaikan TDL. Selanjutnya mereka melakukan longmarch menuju gedung DPRD Jateng.
"Kami mendesak agar Kementerian ESDM membatalkan kebijakan menaikan TDL, karena nyata tidak berpihak kepada umat. Nanti kami akan ada pernyataan sikap yang menyatakan seluruh organisasi mahasiswa di Semarang menolak kenaikan TDL," tutupnya.
(alg/nrl)











































