Ada Dua Versi Pemicu Rusuh Sumbawa, Ini Tanggapan Kapolri

Ada Dua Versi Pemicu Rusuh Sumbawa, Ini Tanggapan Kapolri

Mega Putra Ratya - detikNews
Rabu, 23 Jan 2013 12:15 WIB
Ada Dua Versi Pemicu Rusuh Sumbawa, Ini Tanggapan Kapolri
Jakarta - Ada dua versi soal pemicu kerusuhan di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB). Yang satu meyakini kematian mahasiswi yang juga pacar polisi karena kecelakaan murni, yang lain menduga ada unsur penganiayaan dan pemerkosaan. Apa tanggapan Kapolri Jenderal Timur Pradopo?

"Ini kan kecelakaan tunggal yang menyebabkan korban meninggal dunia. Polisinya sekarang luka berat di RS. Itu kejadian sebenarnya," kata Timur di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2013).

Timur menyebut informasi kematian pacar polisi disebar-sebarkan ke masyarakat seolah-olah terjadi pembunuhan dan pemerkosaan. "Saya minta masyarakat, khususnya di wilayah Sumbawa Besar, jangan terpancing dengan isu-isu seperti itu," tegas Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Makasih ya Dik," kata mantan Kapolda Metro Jaya ini sambil berlalu.

Menurut warga, polisi dan pacarnya mengalami kecelakaan saat bersepeda motor, Sabtu (19/1/2013) malam. "Pagi hari keluarga ngumpul di rumah sakit, ternyata tidak sesuai dengan kecelakaan murni. Ditemukan luka-luka lebam, ada dugaan bukan karena kecelakaan, tapi sepertinya penganiayaan," terang Jun yang juga pengajar di Universitas Sumbawa, saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (22/1/2013). Versi inilah yang menyebar di tengah masyarakat.

Sementara versi kepolisian, polisi dan pacarnya yang hendak menuju Sumbawa dari Desa Kanar, Sumba Besar, Sabtu (19/1/2013), sekitar pukul 23.00 Wita, mengalami kecelakaan. Motor keduanya, Yamaha Mio DK 2861 WY, selip.

"Ketika berada di kilometer 15-16 motor yang ditumpangi keduanya terpeleset. Pengemudi mengalami luka berat sementara yang dibonceng meninggal dunia," kata Kabid Humas Polda NTB AKBP Sukarman, saat dihubungi detikcom, Selasa (22/1/2013).

Dari kasus kecelakaan lalu lintas itulah, berkembang kepada isu pemerkosaan. "Karena adanya isu yang berkembang, padahal tidak demikian, kemudian memicu emosi massa," terang Sukarman.

Kerusuhan terjadi sekitar 13.00 Wita, Selasa (22/1/2013). Massa merusak mobil, membakar rumah dan toko, dan fasilitas lain.

(trw/nrl)


Berita Terkait