Aksi demo tersebut sebagian besar diikuti petani tembakau dari Kecamatan Manisrenggo, Prambanan, Jogonalan, Gantiwarno, Wedi, Trucuk, Jatinom, Karangnongko, Gayamprit dan lain-lain. Dalam aksi itu perwakilan kelompok tani tembakau dari Yogyakarta, Magelang dan Temanggung turut hadir.
Massa dari Manisrenggo dan Prambanan bergabung menjadi satu melakukan konvoi dari Prambanan Klaten. Mereka dikawal aparat Polres Klaten. Saat konvoi arus lalu lintas di sepanjang Jl Yogya-Solo terutama di wilayah Jogonalan hingga Bendogantungan atau 1 km dari tempat aksi, arus lalu lintas tersendat.
Di depan kantor bupati, ribuan petani tembakau dari berbagai kecamatan langsung bergabung menjadi satu. Semua kendaraan di parkir di jalur lambat depan kantor bupati. Akibatnya ruas jalan macet dan arus lalu-lintas tersendat.
Untuk mengatasi kemacetan tersebut, aparat kepolisian terpaksa menutup jalan depan kantor bupati untuk kendaraan pribadi. Semua kendaraan dialihkan melalui jalan lingkar selatan Klaten.
Saat aksi berlangsung, ratusan aparat Polres Klaten bersiaga di sekitar lokasi. Massa menggelar aksi orasi di halaman kantor bupati. Peserta juga membawa berbagai poster dan spanduk serta alat musik. Para petani juga membawa beberapa rokok raksasa yang diisi dengan tembakau. Sebuah replika keranda mayat beserta pocongan juga diusung dalam aksi itu.
Salah satu perwakilan petani tembakau Klaten, Wahyono dalam orasinya menyatakan petani menolak Peraturan Pemerintah (PP) nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif pada Tembakau bagi Kesehatan. Petani meminta pemerintah membatalkan PP tersebut.
"Kalau Presiden SBY tidak membatalkan PP tersebut, kami akan menolak bayar pajak. Ingat tembakau atau rokok adalah pembayar pajak terbesar di Indonesia," katanya.
Wahyono menegaskan semua anggota APTI akan mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK) agar PP tersebut dibatalkan. Sebab PP tersebut syarat dengan kepentingan atau pesanan asing.
"Dalam waktu kurang dari 3 tahun, sudah tidak ada lagi tembakau Indonesia yang ada tembakau impor. Ini berarti juga ingin membunuh petani pelan-pelan," katanya.
Di sela-sela aksi, Bupati Klaten Sunarno menemui perwakilan petani. Sunarno menerima aspirasi para petani dan berjanji akan meneruskan ke pemerintah pusat.
Aksi damai itu diakhiri dengan pembakaran replika rokok raksasa, keranda mayat serta pocongan. Namun belum sempat semua rokok raksasa yang berisi tembakau itu terbakar habis, aparat Polres Klaten langsung memadamkannya. Usai menyampaikan aspirasinya, massa kemudian kembali ke desa masing-masing. (bgk/trw)











































