Kepergian HT, Bahaya Bagi NasDem

Kepergian HT, Bahaya Bagi NasDem

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Selasa, 22 Jan 2013 11:47 WIB
Kepergian HT, Bahaya Bagi NasDem
Hary Tanoe mengumumkan pengunduran dirinya dari Partai NasDem melalui jumpa pers di Museum Adam Malik kemarin. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo memutuskan meninggalkan Partai NasDem karena tak mau Surya Paloh menjadi Ketum NasDem. Kepergian HT, dipandang mengancam eksistensi NasDem.

"Bahayanya pengunduran HT bagi NasDem, pertama terkait dengan image partai. Karena perpecahan ini akan menyebabkan buruknya citra kekinian (current image) NasDem sebagai partai baru. Partai baru harusnya membangun impressi sebagai partai yang solid dan bersama-sama bertarung dengan kompetitor lain bukan dengan perpecahan. Kalau terjadi pecah kongsi, sebelum kompetisi tentu sangat merugikan bagi persepsi positif khalayak terhadap partai NasDem," kata pengamat politik UIN Jakarta Gun Gun Heryanto, kepada detikcom, Selasa (22/1/2013).

Kedua, menurut Gun, mundurnya HT akan merugikan momentum political publicity yang sekarang sedang gencar dilakukan NasDem. Posisi NasDem yang sudah ada di top of mind khalayak tidak bisa dilepaskan dari kontribusi pengemasan opini publik di berbagai media milik HT.

"Back up ini tentu tak akan lagi didapat NasDem dari media-media di bawah HT. Bahkan bukan mustahil setelah HT mundur, justru grup media di bawah HT mengembangkan sikap kritis atas eksistensi NasDem ke depan. Selama ini NasDem memperoleh berbagai liputan, spot, running text, paid publicity dari grup media milik HT, yang menyebabkan NasDem menjadi salah satu partai potensial di Pemilu 2014," ungkapnya.

Lebih dari itu, lanjut Gun, kerugian ketiga adalah dapat memicu konflik lanjutan di internal NasDem. Sebagaimana kita ketahui, sirkulasi elite itu selalu menyebabkan perubahan pada sistem.

"Sangat mungkin akan banyak orang HT yang kecewa, atau juga mengalami friksi tidak hanya di level pusat tetapi juga di daerah. Ini sangat berbahaya bagi eksistensi NasDem, karena akan muncul kegoncangan di antara orang HT dan orangnya SP," ungkap Gun.

"Tentu, mundurnya HT akan merugikan persiapan NasDem sebagai partai potensial di Pemilu 2014. Elektabilitasnya sangat mungkin turun drastis dan berpotensi pola 'zero sum game' dalam relasi antagonistik antar elite di dalamnya," lanjutnya.

Gun menilai, no free lunch dalam politik, sedari awal tentu HT juga sadar, masuknya ke NasDem tentu karena dianggap punya modal finansial dan modal politik yakni kekuatan media yang ada dalam pengendaliannya. Wajar jika SP melihat posisi strategis ini dan memanfaatkannya.

"Tetapi langkah SP ini menjadi berbahaya karena memosisikan konflik terbuka di saat partai NasDem yang seharusnya fokus berkompetisi dengan partai lain. Mundurnya HT ini tak hanya merugikan NasDem, tetapi juga akan membuat NasDem dalam bahaya karena terancam soliditasnya," pungkasnya.

(van/rmd)


Berita Terkait