Lempari Teman Hingga Kepala Bocor, Siswa Kelas 1 SD Dipolisikan

Lempari Teman Hingga Kepala Bocor, Siswa Kelas 1 SD Dipolisikan

Firman Ibrahim - detikNews
Kamis, 17 Jan 2013 19:39 WIB
Bone - AM, siswa kelas 1 SD, berurusan polisi. Anak usia 6 tahun itu dilaporkan ke polisi setelah memukul dan melempari teman sekelasnya, RI (6), dengan batu.

AM dilaporkan keluarga RI ke Mapolsek Tanete Riattang, Kota Bone, Sulawesi Selatan, Kamis (17/1/2013). AM disebut-sebut melakukan pemalakan saat sesi istirahat di sekolah. Karena tak diberi uang, AD memukul RI. Kemudian, ia juga melemparkan batu dan mengenai kepala RI hingga bocor.

"Dia pukul saya dan lempar saya batu," tutur RI di Mapolsek.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keluarga kaget saat mengetahui RI pulang dengan kepala berdarah. Karena merasa kejadian itu sudah sering kali terjadi, keluarga RI yang tinggal Veteran Kelurahan Walannae, Kecamatan Tanete Riattang itu melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

"Sudah sering anakku pulang menangis karena dipukul temannya itu (AM). Nakal memang itu temannya. Saya pilih (lapor) polisi supaya orangtua dan gurunya sedikit memberikan perhatian padanya," jelas ayah RI.

Seorang guru kelas SD tersebut, Susanti (29), dihadirkan ke kantor polisi. Ia kaget lantaran baru mengetahui persoalan kedua siswanya yang berujung ke kantor polisi.

"Saya baru tahu ada persoalan seperti ini. Saya rasa ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan saja," tutur Susanti di ruang pemeriksaan polisi.

Susanti menjelaskan, persoalan itu tidak diketahui lantaran RI dinilai terlalu sabar. Jika mendapat perlakuan kasar dari teman, ia selalu mengadu ke orangtuanya. Bukan ke guru atau wali kelasnya.

Polisi menyerahkan masalah tersebut ke orangtua masing-masing. "Kami kembalikan ke orangtua agar diselesaikan secara kekeluargaan saja," tegas kata Kapolsek Tanete Riattang, Kompol Ali Syahban, yang ditemui di ruang kerjanya.

Hal senada diungkapkan Koordinator Hukum Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LPPA) Kabupaten Bone, Martina Madjid. Menurut Martina, persoalan tersebut harus dilihat dari kedua pihak yang bertikai. Pelaku yang masih bocah itu harus didamaikan dengan pengawasan orangtua masing-masing.

"Secara psikologis, anak yang akan dihukum ini akan merasa trauma dan beban pikirannya akan rusak. Jadi solusi yang harus diambil adalah dikembalikan ke orang tua sambil menyelesaikan masalah yang dihadapinya," tutup wanita yang akrab disapa Tina ini.

(trw/asp)


Berita Terkait