"Jadi sebetulnya masyarakat Indonesia masih wait and see," ujar pengamat politik dari LIPI, Siti Zuhro, pada detikcom, Rabu (16/1/2013).
Zuhro menjelaskan maksud wait and see tersebut dikarenakan tidak adanya perubahan yang progresif dalam pemilu 2014 karena parpol yang berpartisipasi adalah para 'pemain' lama. Hal ini belum termasuk sejumlah kasus yang menjerat sejumlah kader parpol peserta pemilu 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Zuhro memperkirakan partisipasi masyarakat dalam pemilu 2014 tidak jauh berbeda seperti tahun 2009, yakni angka golput yang menyentuh 30 persen. Hal ini dikarenakan masyarakat belum menemukan calon anggota legislatif atau pemimpin yang begitu dekat dengan masyarakat Indonesia.
"Kalau pun ada golput, ya sekitar sama dengan kemarin, 30 persenan. Jadi masih di atas 30 persen juga, dan di pilkada hampir di semua provinsi, tingkat golput juga masih di atas 30 persen. Khususnya provinsi yang cukup tinggi. Ini karena kedekatan antara pemimpin dan yang dipimpin itu tidak terlalu dekat," ujar Zuhro.
Untuk mengatasi angka golput tersebut, Zuhro menyarankan parpol untuk benar-benar menjalankan seleksi calon legislatifnya dengan ketat, dan dekat dengan masyarakat. Hal ini penting agar aspirasi masyarakat benar-benar tersalurkan secara optimal.
"Karakter atau kecenderungan wait and see harusnya diisi oleh parpol dengan melakukan reformasi, dan program aktivitas yang lebih meyakinkan, apa itu? Itu dalam memilih kader adalah bukan kader yang kontroversial, kuncinya ada di rekrutmen kader," ujar Zuhro.
"Jadi semakin banyak kader yang dikompetisikan asal comot, asal populer, dan asal punya duit tidak menyakinkan secara kompentensi. Hanya mengandalkan popularitas tidak berperan, jadi saya tidak menyarankan kultur seperti itu, tapi bagaimana partai mempersiapkan kader handalnya untuk pileg itu. Ini kan taruhan pertama," tutup Zuhro menambahkan.
(vid/tor)










































