Ical, Capres Tersering Dibicarakan di Media Sosial

Ical, Capres Tersering Dibicarakan di Media Sosial

- detikNews
Rabu, 16 Jan 2013 17:19 WIB
Ical, Capres Tersering Dibicarakan di Media Sosial
Aburizal Bakrie alias Ical.
Jakarta - Berdasarkan analisa media sosial Capres 2014 dan Partai Politik, Aburizal Bakrie merupakan capres paling dibicarakan di Facebook dan Twitter. Partai Demokrat juga tersering dibicarakan di dua media sosial populer itu. Pembicaraan tentang Ical dan PD, lebih banyak tentang sisi negatif masing-masing.

"Dilihat dari jumlah akun yang membicarakannya terdapat 20.552 akun. Disusul oleh Prabowo (11.627), Mahfud MD (9.469), Megawati (8.567), Dahlan Iskan (8.300), dan Jusuf Kalla (7.079)," ujar Direktur PoliticaWave.com Yose Rizal di Resto Rempah-rempah, Jl Senopati, Jakarta Selatan, Rabu (16/1/2013).

Poses analisis ini dilakukan sejak Periode 1 Oktober-31 Desember 2012. Proses analisis yang dilakukan dengan teknologi politicaWave, suatu teknologi algoritma untuk menghitung dan memantau percakapan di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu dilihat dari jumlah percakapan yang ada, Ical juga menjadi yang paling banyak dibicarakan (32.670 kali). Disusul oleh Prabowo (19.377), Mahfud MD (13.302), Dahlan Iskan (11.895), Megawati (10.720), dan Jusuf Kalla (10.606).

Sementara dari percakapan-percakapan tersebut, PoliticaWave juga menangkap persepsi pengguna media sosial atas para tokoh tersebut.

"Memang yang paling banyak dibicarakan (skor -15,9), namun sayangnya paling banyak dibicarakan secara negatifnya. Sementara negatif kedua adalah Dahlan Iskan (-6,77), kemudian Anas Urbaningrum (-2,5)," jelas Yose.

Sedangkan tokoh yang paling banyak dibicarakan sisi positifnya adalah Mahfud MD dengan skor (10,05), Jusuf Kalla (7,61) disusul oleh Prabowo (3,87).

"Seperti Google, punya pola yang sama. Percakapan ditangkap, dan tampilkan sebagai grafik. Kami bekerja sama denga server Twitter dan Facebook. Dan teknologi ini murni buatan dalam negeri," tutur Yose.

Yose menjelaskan bahwa proses analisa media sosial berbeda dengan survei. Sebab, tidak ada pertanyaan yang dilontarkan para analis.

"(Data) sesuai dengan apa yang mereka inginkan, pembicaraan muncul sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Media sosial adalah ekspresi yang lebih apa adanya," imbuhnya.

(sip/lh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads