Laksamana Sukardi:
Saya Ke Australia Seizin Presiden
Minggu, 26 Sep 2004 20:42 WIB
Jakarta - Menneg BUMN Laksamana Sukardi membantah isu dirinya kabur ke luar negeri. Ia menganggap isu tersebut adalah gerakan politik yang mendiskreditkan dirinya.Bantahan ini disampaikannya sebelum menghadiri Sidang Paripurna MPR masa akhir jabatan periode 1999-2004 di Gedung DPR/MPR Senayan, Jl. Gatot Subroto Jakarta, Minggu (26/9/2004). Berikut petikan wawancara dengan Laksamana Sukardi.Anda diisukan kabur ke luar negeri?Kalau dilihat di kamus, kabur itu hanya buat penjahat. Saya tidak tahu dari mana beritanya. Siapa yang beritakan saya kabur?Ada aksi unjukrasa yang meminta Anda dicekal?Sekarang kan demo bisa dibayar, kan gampang. Kabur itu siapa yang beritakan?Kira-kira isu itu muncul dari mana?Saya tidak tahu, saya biasa saja.Sebenarnya Anda kemana saja selama ini?Saya memang ada keperluan keluarga yang sudah lama tertunda karena Pemilu. Setelah Pemilu saya minta izin. Memang ke luar negeri, saya mengantar anak saya sakit, apalagi ada hari weekend, hari perkawinan, jadi nggak ada masalah. Saya ke Australia.Ada isu Anda berkewarganegaraan ganda?Tidak usah dengar isu, saudara kan profesional. Bagaimana warga negara ganda, isu itu kalau ditanggapi capek.Bagaimana dengan adanya laporan LSM bahwa Anda melakukan perbuatan yang merugikan negara?Apa yang dilaporkan, saya dianggap kabur itu fitnah. Buktinya saya ada di sini. Saya tidak tahu motivasinya apa. Fitnah itu sadis. Kita hanya doakan yang melakukan fitnah itu selamat. Kami memang biasa di fitnah.Kalau saya dibilang merugikan itu tidak mudah. Saya merugikan negara di mana itu. Kalau kebijakan itu kan institusi, ada pemerintah, DPR, dan payung konstitusinya. Itu ada amanah yang harus dieksekusi, dan setiap privatisasi kami selalu konsultasi dengan DPR. Tidak ada yang tidak dikonsultasikan. Semua membawa manfaat, bukan untuk saya pribadi. Kalau ada yang katakan itu, ya kita harus bersikap dewasa.Apakah Anda akan mengajukan gugatan?Saya sedang meminta teman-teman lawyer untuk melihat berita-berita yang isapan jempol, suudzon kita kategorikan seperti apa. Kalau media dipakai untuk memojokkan seperti itu kan bukan tujuan kita. Kita sedang mereview, jangan sampai ada media yang ditujukan untuk tujuan ini.Apakah Anda akan menggugat LSM yang melaporkan Anda?Saya tidak tahu apa yang mereka adukan. Saya tidak takut, tidak ada masalah. Kita hanya menjalankan tugas berat untuk tiga tahun terakhir, dan itu ada amanat konstitusi. Memang lebih mudah untuk memprovokasi. Ikatan Alumni ITB itu kan saya ketuanya, dan sudah saya cek tidak ada. Semua orang memang bisa mengadukan, ini seperti gerakan politik untuk mendiskreditkan.Apa motivasi dari isu Anda kabur?Saya tidak tahu, saya baru tahu belakangan ini. Perginya saja saya jelas.Apakah Anda sudah bicara dengan Presiden mengenai kepergian Anda?Saya sudah bicara masalah ini, toh saya ke luar negeri hanya dua hari kerja. Semuanya terbuka dan dapat izin dari Presiden.Sebelumnya, Jumat (24/9/2004) Perwakilan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) Jakarta, Ikatan Alumni ITB Pro-perubahan, Masyarakat Profesional Madani (MPM) meminta agar Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi, Menperindag Rini MS Soewandi dan mantan Ketua BPPN Syafruddin Temenggung dicekal pihak Kejaksaan Agung (Kejagung).Ketiga pejabat dan mantan pejabat negara tersebut dianggap telah melakukan penyimpangan selama menjabat, karena kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan merugikan negara hingga triliunan rupiah.Ketiga LSM tersebut mengadukan hal ini ke Kejagung karena Laksamana Sukardi diketahui telah meninggalkan Indonesia bersama istrinya ke luar negeri pada Rabu (22/9/2004).
(dit/)











































