12 Pasangan Nikah Massal di Yogya

12 Pasangan Nikah Massal di Yogya

- detikNews
Minggu, 26 Sep 2004 19:45 WIB
Jakarta - Dua belas pasangan hari ini dinikahkan secara massal di Yogyakarta. Sebelumnya, banyak dari mereka yang sudah hidup bersama bertahun-tahun.Ke 12 pasangan itu dinikahkan di Masjid Syuhada Jl. I Dewa Nyoman Oka, Kota Baru Yogyakarta, Minggu (26/9/2004). Acara ini digelar bersamaan dengan perayaan Milad Emas Pendidikan Kader Masjid Syuhada (PMKS).Suasana haru dan bahagia terlihat saat ke-12 pasangan itu dinikahkan dihadapan penghulu. Sebelumnya, mereka hidup bersama tanpa ikatan perkawinan sah, alias kumpul kebo karena tidak punya biaya untuk melangsungkan pernikahan.Setiap pasangan, selain mendapat perlengkapan baju muslim, juga mendapat uang Rp 50.000 sebagai mas kawin. Untuk melangsungkan acara nikah massal itu, panitia mendapat bantuan Rp 10 juta dari Taufik Kiemas yang sempat bersilaturahmi dengan pengurus masjid beberapa waktu lalu.Pasangan Endang Widianingsih dan Pujosasmito mengaku sudah lama ingin menikah, namun karena tidak ada biaya keinginan itu tidak terlaksana. Selama lima tahun kumpul kebo, mereka telah dikaruniai dua orang anak."Sebenarnya, kami ingin menikah secara resmi tapi tidak punya uang. Selama ini hidup kami tidak tenang dan sering jadi omongan tetangga, dan secara agama jelas melanggar aturan. Suami hanya tukang becak sedang saya sendiri hanya ngamen," ujar wanita yang tinggal di daerah Pugeran Mantrijeron Yogyakarta tersebut.Hal serupa diungkapkan Darsono (50) yang secara resmi menikahi Nipah (40) setelah hidup tanpa ikatan resmi selama lebih dari 15 tahun. "Kami sadar nikah resmi itu membuat hidup kami tenang, hanya karena tidak punya dana saja yang jadi hambatan selama ini," tutur Darsono.Sementara itu, penanggungjawab kegiatan, Adji mengatakan pendaftar nikah massal ini mencapai 30 pasangan. Namun, dari jumlah itu hanya 12 pasangan yang lolos persyaratan administrasi. Sebagian beserta adalah masyarakat miskin yang tidak mempunyai KTP dan hanya memiliki KIPEM saja. "Hanya itu yang menjadi kendala, selain tidak punya dana," demikian Adji. (dit/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads