Seorang warga Kampung Tempuran Kelurahan Pegulon Kecamatan Kendal, Randy Putranto (18), mengatakan ia dan keluarganya harus bersiap mengungsi jika air yang sudah mulai masuk ke dalam rumahnya semakin meninggi.
"Air mulai naik sekitar pukul 02.00 pagi tadi. Terus ini kalau tambah naik ya terpaksa ngungsi," kata Randy di depan rumahnya, kampung Tempuran RT 8 RW IV, Kabupaten Kendal, Minggu (13/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, Paul Simamora mengatakan, banjir di pusat kota tersebut memang dari luapan sungai Kendal. Hal itu merupakan strategi pintu air untuk mengurangi korban lebih banyak.
"Itu strategi pintu air, yang dikorbankan daerah kota. Kalau tidak begitu bisa lebih banyak korban. Tapi ini empat sampai lima jam sudah surut," kata Paul.
Ia menambahkan ada dua kecamatan yang banjirnya mencapai pemukiman penduduk yaitu Kecamatan Kendal dan Ngampel. Sementara itu di Kecamatan Patebon, belasan hektar lahan pertanian dengan masa tanam 2-15 hari tergenang air.
"Tinggi air di pemukiman antara 10-25 cm, di jalan antara 40-65 cm, di lahan pertanian hingga 35 cm," katanya.
Penyebab meluapnya air di sungai Kendal disebakan juga oleh sedimentasi sehingga terjadi pendangkalan. Sementara di Kecamatan Ngampel, banjir disebabkan oleh adanya jembatan darurat yang dibangun karena pembangunan double track di daerah tersebut.
"Di desa Banyu Urip Kecamatan Ngampel memang ada pengerjaan double track milik PT KAI," ujar Paul.
Hingga saat ini belum diketahui berapa kepala keluarga yang terkena banjir. Sementara itu dari pantauan detikcom, hujan baru saja berhenti sedang langit masih mendung gelap.
"Paling sering banjir memang Kecamatan Kendal. Ada 10 Kelurahan. Untuk bantuan akan kita salurkan ke korban, bukan untuk dana kerja bakti," tutupn Paul.
Caption : Seorang warga membantu ibu-ibu yang motornya mogok. Kendal (13/1/2013).
(alg/nrl)











































