Di Desa Bugel, Polokarto, misalnya, ribuan itik ditemukan mati. Setiap hari, dalam dua pekan terakhir, para pemilik ternak mengeluhkan banyaknya itik siap jual yang mati. Gejalanya serupa, yaitu menderita sakit di bagian kepala dan kebutaan, kemudian itik itu seperti merasakan kesakitan yang sangat hingga membentur-benturkan kepalanya hingga mati.
"Sudah lebih dari 150 ekor itik piaraan saya mati. Kami sudah berusaha mengobatinya dengan berbagai cara, termasuk diberi obat sakit kepala, namun tetap saja tidak tertolong. Semuanya itik siap jual. Rata-rata satu ekor itik seharga Rp 50 ribu," ujar Kanti, salah satu peternak itik di Desa Bugel, Jumat (11/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap itik yang sehat maupun yang sudah terjangkit. Dari pemeriksaan yang kami lakukan, unggas yang sakit terkena virus H5N1. Untuk mengantisipasi penyebaran lebih luas, kami telah menekankan kepada peternak agar segera memisahkan itik yang masih sehat," ujar Drh Ngatmini, petugas dari Dispertan Sukoharjo.
Petugas juga melarang keras itik yang telah terjangkit untuk dijual atau dikonsumsi. Itik itu harus segera dimusnahkan dengan cara disembelih dan dibakar secara dilokalisir di tempat yang telah ditentukan. Sisa pembakaran harus dikubur untuk menghambat penyebaran virus kepada unggas lain. Selain itu, kandang dan areal sekitarnya juga harus rajin disemprot desinfektan.
(mbr/try)











































