Selain bom pipa siap ledak, Polda NTB juga menunjukkan bahan-bahan pembuat bom yang belum dirangkai, seperti 50 kg amonium nitrat, dua botol lead nitrat, beberapa baterai, kabel, paku, pelor besi atau gotri dan bahan lain.
Kapolda NTB Brigjen Polisi Muhammad Iriawan dalam keterangan pers di sela peledakan dan gelar barang bukti itu di Mako Brimob Polda NTB, Rabu (9/1/2013), mengatakan, dari bahan pembuatan bom yang disita itu, sedikitnya bisa menghasilkan 261 bom pipa siap ledak.
Bom pipa itu terbuat dari pipa paralon berdiameter dua inci dengan panjang 15 cm. Dua ujung pipa ditutup rapat dan salah satu ujungnya dilubangi untuk sumbu. Bagian luar pipa dililitkan paku dengan perekat lakban hitam.
"Satu bom pipa, tanpa paku, jika meledak, bisa menyebabkan tiga rumah roboh. Kalau dengan paku, maka itu akan sangat mematikan," kata Iriawan.
Bahan-bahan untuk merakit bom itu terlihat masih baru. Bahkan pipa paralon yang disita, kata Iriawan, didatangkan khusus dari Malaysia, karena kualitas lebih baik dibanding pipa sejenis produksi dalam negeri.
Bom itu disita saat penyisiran sebuah gubuk usai Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menembak mati tiga terduga teroris jaringan Poso di Dusun Kendai 2, Desa Bintek, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Sabtu pagi pekan lalu.
Sementara dari lokasi penggerebekan sehari sebelumnya yang menewaskan dua orang terduga teroris di Mangge Nae, Kabupaten Bima, tak ada bahan peledak yang disita Densus 88.
Usai memamerkan bom pipa itu, Tim Gegana Brimob Polda NTB lalu meledakkan bom pipa yang sudah dirakit. Asap putih membubung tinggi disertai bunyi menggelegar.
Bahan-bahan peledak lainnya akan dikirim ke Mabes Polri sebagai barang bukti tindak kejahatan terorisme.
(trw/trw)











































