"Kalau memang sudah dinyatakan dihentikan ya ini angkatan terakhirnya. Ya jelas lah sekolahnya, tetapi kita kan tetap menjaga mutu, artinya dengan dicabutnya label ini jangan mengurangi mutu kita," ujar Kepala Sekolah SMA 70, Saksono Liliek Susanto.
Hal itu dia katakan saat berbincang dengan wartawan di SMA 70, Jalan Bulungan 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya dari segi dana, yang pertama, kan udah nggak boleh lagi. Yang kedua ya seleksi masuknya, ya nggak banyak lagi dong kan udah dari DKI," paparnya.
Soal dana, Saksono menjelaskan pihaknya akan bertemu dengan para orang tua murid untuk sosialiasi dan berembug. Nantinya para orang tua murid juga akan dijelaskan mengenai perubahan program dan kurikulum di sekolahnya.
"Programnya berubah, seperti misalkan kita mengundang native speaker, karena dana tidak ada dari masyarakat lagi ya tidak lagi. (Kurikulum) Ya studi banding, ya kan nggak bisa, tapi yang terjadi di sekolah reguler. Nanti nuansanya sukarela," jelasnya.
"Kita panggil orang tua dulu, terus ada dialog. Kalau menurut saya yang namanya sumbangan kan ikhlas, masa nyumbang masa dibalikan lagi. Yang sudah terlanjur menyumbang ya diikhlaskan. Makanya nanti perlu dialog biar jelas. Yang pasti saya bicara dengan pengurus dulu, bisanya kapan," lanjutnya.
Menurut Saksono sejauh ini belum ada keluhan dari para orang tua murid. Saksono berharap para orang tua murid menerima putusan MK tersebut.
"Ya harus menerima lah sebagai warga negara yang baik," harapnya.
Saksono mengaku pihaknya sudah bertemu dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Pertemuan itu membahas putusan MK yang membubarkan RSBI.
"Semalam rapat pukul 10.00 WIB. Jadi labelnya tolong dihapus, pelayanan harus tetap kemudian perubahan pada program penerimaan peserta didik baru. Kita tetap harus semangat," ungkapnya.
(nwk/ega)











































