Pada Minggu (7/1) pukul 18.40 WIB lalu, Harmani (33) ibunda bayi tersebut terbang dari Timika Papua ke menuju Makassar. Tak disangka, rupanya Harmani mengalami kontraksi di dalam pesawat dan harus melahirkan saat itu juga.
Dengan sigap namun dengan peralatan seadanya, para pramugari dan mahasiswi keperawatan pun membantu proses lahiran tersebut. Tim terdiri dari Sherly Juwita, Rahmasari, Musyarafatul dan Anisah Abdullah.
"Saya kebagian mengelap pas selesai lahiran," ujar Rahmasari saat berbincang dengan detikcom, Selasa (8/1/2013).
Menurut Rahma, bayi tersebut tidak menangis saat keluar dari rahim ibunya. Kulitnya biru dan kondisinya lemah. Setelah dicek belakangan, berat bayi 1,7 kilogram.
"Kita berusaha menepuk-nepuk pantatnya, kasih penghangat, lalu kita azanin, selawatan, baru dia agak bergerak dan nangis pelan," jelasnya.
Kini, bayi itu telah tiada. Yang tersisa di benak Rahmasari hanya ingatan betapa lucunya bayi yang belum diberi nama tersebut.
Ke depan, dia pun berharap para ibu hamil bisa memperhitungkan kemampuan diri sebelum naik pesawat. Tidak perlu memaksakan bila memang ada kekhawatiran kelahiran saat terbang.
"Kita sudah dibekali pendidikan ini, cara menangani penumpang. Setiap tahun juga diulang latihannya. Tapi kan kondisi ibu hamil beda-beda, kita harap mereka lebih care dengan diri sendiri," harapnya.
Bayi yang belum diberi nama itu meninggal pukul 22.30 Wita, Senin (7/1) karena hipotermia meskipun telah disimpan di dalam inkubator. Keluarga bayi itu sudah membawa bayi ke rumahnya di Bantimurung dan memakamkannya.
(mad/nrl)











































