"Enggak ada niat buat malak di angkot," aku Irawan di Polres Jakarta Timur, Jl Matraman Raya, Selasa (1/1/2013).
Menurut pelaku bertato di dada ini, dalam aksinya mereka membekali dirinya masing-masing dengan pisau dapur yang mereka bawa dari rumah. Pisau tersebut, kata Irawan, memang selalu melekat di mereka sehari-harinya.
"Pisau untuk jaga-jaga saja, memang dibawa dari rumah," ujarnya.
Dalam pengakuannya tersebut juga, para pelaku mengaku baru sekali melakukan aksi penodongan penumpang angkot. Alasannya, mereka hanya mencari uang untuk makan.
"Cari makan saja," katanya.
Sehari-hari keduanya bekerja sebagai pengamen di wilayah Kampung Melayu. Keduanya hanya menamatkan sekolah sampai di bangku SMP.
Orangtua Irawan bekerja sebagai tukang kerak telor keliling, sementara ayah dari Mukti Ginanjar merupakan hansip sekitar Buaran, Jakarta Timur. Keduanya sudah sebulan mengontrak kamar di sekitar Buaran.
Menurut Kapolres Jakarta Timur, Kombes Mulyadi Kaharni, pelaku dijerat dengan pasal 365 KUH Pidana tentang pencurian dengan kekerasan.
"Ancaman penjara 15 tahun," tegas Kaharni.
(ahy/gah)











































