Euforia KJS Bikin Dokter RSUD Tarakan Kelimpungan Terima Pasien

Euforia KJS Bikin Dokter RSUD Tarakan Kelimpungan Terima Pasien

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 29 Des 2012 07:21 WIB
Euforia KJS Bikin Dokter RSUD Tarakan Kelimpungan Terima Pasien
Jakarta - Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang dibagikan Pemprov DKI Jakarta ternyata menyebabkan para dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan kebanjiran pasien. Pasien jadi membludak di rumah sakit yang beralamat di Jalan Kyai Caringin, Gambir Jakarta Pusat ini.

"Memang, saat ini ada suatu perubahan kinerja (dengan penerapan KJS), tapi semuanya harus kita sikapi dengan wise. Saya sehari kalau menangani 200 pasien saja nggak apa-apa. Lha ini sehari bisa 700, bahkan hari Senin dan Selasa bisa 1.200 pasien," ungkap Direktur Utama RSUD Tarakan, Koesmedi, kepada detikcom, Jumat (28/12/2012).

Tenaga medis didorong berusaha ekstra dalam menangani banyak pasien. Kondisi ini berisiko terhadap penanganan pasien. Bukan tidak mungkin, potensi kesalahan penanganan dan malpraktik menjadi bertambah lantaran tenaga medis kelelahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Koesmedi juga membenarkan bahwa pasca penerapan KJS, ruang kelas tiga di rumah sakitnya menjadi penuh dijejali pasien. Pasien yang tidak tertampung di ruang kelas tiga akhirnya dirawat di ruang IGD.

"Membludak sih iya pasti, ya ini kan lagi euforia.Yang penting pasien ditangani sesuai standar, yang penting ditangani. Sekarang syaratnya KTP dan rujukan saja, tapi pasien kalau kita tolak pasti ribut," ujar Koesmedi.

Koesmedi menyatakan perlu adanya perbaikan terhadap sistem KJS agar pasien tidak menumpuk di rumah sakit. Seharusnya, sebagian besar pasien bisa ditangani di Puskesmas-puskesmas wilayah setempat. Di samping itu, perlu ada upaya edukasi kepada masyarakat bahwa berobat tidak harus ke rumah sakit, cukup di Puskesmas.

"Ini semua sistemnya harus diperbaiki, baik sistem rujukannya, sistem rumah sakit, juga sistem pelayanan. Masyarakat itu kan kadang ke Puskesmas saja bisa tapi malah ke rumah sakit. Penyakit itu 60% bisa disembuhin di Puskesmas, nggak usah ke rumah sakit. Perlu edukasi agar masyarakat tidak kebakaran jenggot semua lari ke rumah sakit," tutur Koesmedi.

(ndr/ndr)


Berita Terkait