Fenomena popularitas Jokowi yang menurut banyak survei mendongkrak popularitas capres Gerindra Prabowo Subianto yang aktif dalam kampanye Pilgub DKI menjadi awal dari keretakan PDIP Gerindra.
Taufiq Kiemas saat itu memang mengambil inisiatif pertama 'menyerang' Gerindra yang menjadi mitra koalisi PDIP di Pilpres 2009 lalu. Terang-terangan Taufiq yang kecewa karena popularitas Jokowi didomplengi Prabowo, mengatakan kapok koalisi dengan Gerindra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prabowo memang menahan diri tak membalas serangan-serangan tersebut. Namun Prabowo akhirnya memilih tak menghadiri pelantikan Jokowi dan Basuki sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Tak mau dianggap memanfaatkan popularitas Jokowi-Basuki yang sedang naik daun setelah menaklukkan cagub DKI Jakarta incumbent Fauzi Bowo (Foke), Prabowo bahkan menunda deklarasi pencapresannya.
Situasi panas hubungan PDIP-Gerindra ini dinilai akan bertahan sampai Pemilu 2014 mendatang. Pengamat politik dari Charta Politika Yunarto Wijaya melihat fenomena di Pilgub DKI tersebut telah memposisikan PDIP dan Gerindra tak lagi sebagai partai koalisi.
"Posisi kedua partai ini sudah saling berseberangan setelah Pilkada DKI. Dan itu langsung secara strategis ditunjukkan PDIP dengan tidak mengajak Gerindra berkoalisi di Pilgub Jabar. Statement saling menyerang itu sudah terjadi," kata Yunarto kepada detikcom, Kamis (27/12/2012).
Koalisi PDIP dan Gerindra di Pilpres 2014 semakin sulit terealisasi melihat ada gelagat majunya kembali Megawati maju ke Pilpres 2014. "Apalagi sinyal itu semakin ditegaskan dan sepertinya Ibu Mega masih akan maju ke Pilpres 2014. Dengan posisi Mega capres, saya pikir agak sulit menggabungkan ambisi politik keduanya. Saya lihat akan sulit melihat ini sebagai potensi koalisi," ungkapnya.
(van/rmd)











































