Demikian rilis cacatan akhir tahun Indonesia Police Watch (IPW) yang diterima redaksi pada Rabu (26/12/2012). "Kami mencatat aksi itu ada dua katagori, yakni main tembak dan salah tembak," kata Neta S. Pane, ketua presidium IPW.
Kasus salah tembak dan asal tembak terjadi di berbagai kota di Indonesia. Terbanyak adalah di Jakarta yaitu enam kasus, disusul Sulawesi Utara dengan lima kasus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelumnya korban terlihat cekcok soal asmara dengan polisi tersebut. Dari luka tembak di bahu kanan tembus ke belakang itu ditemukan peluru kaliber 4,5. Selain itu rahang kiri korban patah. Diduga, sebelum ditembak, korban dipukuli," papar Neta.
Sedangkan untuk kasus salah tembak, contohnya adalah yang menewaskan Supri Handoko, warga Purworejo, Jawa Tengah, pada Minggu 26 Februari 2012. Ketika itu polisi dari Polses Bayan menggrebrek kediamannya untuk menangkap Slamet, kakak Supri, atas tuduhan mencuri.
"Brigadir Rahmat Widodo menodongkan pistol tepat di leher Supri. Korban sudah menjelaskan bahwa polisi salah tangkap. Tapi Brigadir Rahmat tidak peduli. Bahkan menembak leher Supri hingga tembus ke bagian belakang," papar Neta.
Selain itu IPW juga mencatat Bupati Bengkulu Tengah Feri Ramli nyaris menjadi korban salah tembak setelah rumahnya diberondong tembakan pada 25 Juni 2012. Peristiwa ini bermula dari polisi mengejar bandar narkoba yang bertransaksi di Simpang Suka Merindu, tak jauh dari rumah bupati.
Ada juga kasus yang diakibatkan kecerobohan oknum polisi pemegang senjata api. Seperti yang menimpa Briptu Patriot pada 21 Juni 2012. Anggota Ditserse Narkoba dan Kriminal Umum Polda Sulteng ini tertembak di bagian paha oleh Briptu Irwan Patula yang sedang memain-mainkan pistol dengan bergaya cowboy.
Korban kecerohonan lainnya adalah Reza Pahlevi (4). Hidung hingga ubun-ubunnya tertembus peluru yang melesat dari pistol ayahnya.
"Korban menurun di banding 2011 yang tercatat ada 97 orang tak bersalah ditembak polisi, 19 tewas dan 78 luka tembak. IPW berharap Polri mengawasi kinerja jajaran bawahnya agar kasus salah tembak yang merugikan rakyat tidak terus terjadi," sambung Neta.
(lh/lh)











































