Kekerasan pada Anak, Siapa Peduli?
Kamis, 23 Sep 2004 14:03 WIB
Den Haag - Kekerasan pada anak (KPA) tak hanya sebatas tindakan kasar yang mencelakakan anak dan caci maki. Jangan-jangan selama ini tanpa sadar kita adalah salah satu pelaku KPA terhadap anak kita sendiri.Masalah KPA itu dibahas dalam seminar online yang digelar LSM Kharisma, dengan tema Kekerasan pada Anak: Dampak Fisik dan Psikis dan Tinjauan Agama, seperti dilaporkan Dwi Maryatni dari LSM tersebut kepada detikcom, Rabu (22/9/2004). Seminar diikuti peserta lintas benua, antara lain Jerman, Indonesia, Brasil, Australia, Jepang, USA, Perancis, Belanda, Kanada, Singapura, Inggris dan Rumania.Psikolog Alva Nadia, salah satu narasumber yang dihadirkan LSM berbasis di Jerman tersebut, dalam makalah berjudul Penganiayaan Terhadap Anak dalam Keluarga mengungkapkan ada empat jenis KPA dalam keluarga, yakni penyiksaan fisik, penyiksaan emosi, pelecehan seksual dan pengabaian, yang tanpa disadari banyak dilakukan oleh orangtua atau pengasuh.Menurut Nadia, dampak penganiayaan fisik terlihat jelas antara lain ada bekas cedera pada tubuh anak ataupun psikis seperti menarik diri. "Sedangkan dampak penyiksaan emosi lebih sukar diidentifikasi karena tidak meninggalkan bekas nyata," kata Nadia pada seminar edisi ketiga yang digelar selama sepekan 13-19/9/2004 itu.Psikolog jebolan Fakultas Psikologi UGM, yang pernah mendapatkan predikat juara kedua Indonesian Innovative and Productive Writing Contest itu menambahkan bahwa dampak penyiksaan emosi itu bisa juga termanifestasi dalam bentuk kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, dan kesulitan membina persahabatan.Mengenai dampak pelecehan seksual, Nadia membaginya ke dalam dua hal: pada anak yang masih kecil dampak pelecehan seksual bisa terlihat pada prilaku seperti kecemaasan tidak beralasan atau mudah merasa takut. Sedangkan pada remaja dampaknya lebih besar lagi, mulai dari melarikan diri dari rumah, prestasi belajar menurun hingga telibat kejahatan.Lalu bagaimana dengan dampak pengabaian? Nadia menjelaskan, bayi yang dipisahkan dari orang tuanya dan tidak memperoleh pengganti pengasuh yang memadai, akan mengembangkan perasaan tidak aman dan gagal mengembangkan perilaku akrab. Termasuk dalam pengabaian ini, menurut Nadia, adalah segala ketiadaan perhatian terhadap beberapa kebutuhan anak, baik fisik, sosial atau emosi, dan dilakukan berulang-ulang sehingga akan mengakibatkan dampak yang tidak baik di masa akan datang. "Menurut pendapat saya alangkah beruntungnya anak, jika kita memiliki kuantitas waktu yang lebih banyak untuk anak, ditambah peningkatan kualitas aktivitas bersama anak." demikian Nadia.
(es/)











































