Pantauan detikcom, belasan kios yang terletak di peron Stasiun UI di bagian ke arah Jakarta tutup. Namun belasan pedagang pemilik kios itu sedang berkumpul di salah satu sudut peron. Wajah mereka tampak cemas.
Salah satu pedagang kios UI yang berjualan nasi, Yanti (38) membenarkan ada isu penggusuran itu. Padahal mereka berjualan di kios, bukan di emperan peron.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yanti mengatakan di Stasiun Citayam, penggusuran itu dilakukan malam hari. Makanya, para pedagang ini sudah bersiaga sejak Senin malam. Mengenai surat penggusuran, para pedagang kios itu sudah mendapatkannya pada 28 November 2012 lalu.
"Isinya, kita dikasih waktu 7x24 jam untuk mengosongkan kios. Kami itu sempat ke PT KAI yang di Stasiun Kota, di bagian aset. Kita usaha mediasi, dialog sama KAI tapi belum dapat titik terang. Kita ke Stasiun Jakarta Kota, LBH, Komnas HAM, dan BUMN. Tapi belum ada kejelasan," jelas dia.
Menurut Yanti, cara PT KAI menggusur pedagang kios tidak logis. Para pedagang, bahkan ada yang masih memiliki kontrak beberapa tahun ke depan. Mestinya, para pedagang kios diberitahu akan digusur sebelum perpanjangan kontrak.
Mengenai besaran kontrak kios, dengan ukuran 6x6 meter mencapai Rp 9 juta - Rp 10 juta per tahun. Pajaknya sekitar Rp 3,5 juta per tahun. Yanti sendiri sebelum 8 tahun berjualan di kios, dia berjualan nasi di emperan peron. Karena mengganggu, dulu PT KAI membuatkan kios untuk berjualan.
"Kita pernah demo di sini, pasang spanduk yang intinya tolak penggusuran, mari kita diskusi. Tiba-tiba ada orang dari Kota ke sini. Kurang tahu, mungkin humas atau siapa. Tapi nyatanya jawabannya malah ngambang. Selama ini kita kooperatif, mengikuti aturan mereka, seperti tidak boleh berjualan melebihi batas peron. Tidak boleh membawa kompor. Jadi saya masak di rumah," jelas dia.
Sementara pemilik kios fotokopi, Rizal, mengatakan setiap hari pedagang kios juga harus membayar retribusi kebersihan Rp 1.500. Dirinya juga pernah mengalami penggusuran saat membuka kios di luar peron.
"Tadinya saya di bawah, 2 bulan lalu digusur, terus saya naik ke sini. Tapi tidak diberitahu kalau mau ada penggusuran. Kami dibantu BEM UI untuk memediasi dengan pihak KAI. Untuk sementara waktu dicabut 'penggusuran' dulu. Tapi sampai batas waktu yang tidak ditentukan, kita tidak tahu," jelas dia.
Sementara salah satu mahasiswa UI, Abdi (21) mengatakan adanya para pedagang di kios Stasiun UI sebenarnya malah membantu mahasiswa.
"Kalau saya justru malah terbantu, bukan mengganggu, ada fotokopi, ada yang jual pulsa
Ya emang bersih, emang seperti itu, nggak ada pedagang di bawah. Kalau tutup, saya ini mau fotokopi malah bingung," tutur Abdi.
Sedangkan mahasiswi UI yang enggan disebutkan namanya menilai, penggusuran ini tidak berpihak para rakyat kecil.
"Kalau misalnya mau dibikin kayak Gambir, emang jadi bagus, tapi kan jadi pemodal-pemodal besar yang bisa masuk. Padahal tidak sedikit yang menjadikan ini sebagai mata pencarian utama. Kasihan. Nanti gimana kalau kehilangan pekerjaan," jelas dia.
PT KAI ingin kios-kios itu dibongkar untuk penataan stasiun dan lahan parkir. PT KAI menyebut sudah memberikan waktu bagi para pedagang untuk pindah sehingga penertiban akan tetap dilanjutkan.
(nwk/nrl)











































