Metodologi Quick Poll dan riset kualitatif diterapkan dalam survei ini. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 14-17 Desember 2012 dengan metode multistage random sampling dan jumlah responden 440. Riset kualitatif dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD) dan analisis media nasional.
"Mayoritas publik tidak suka perilaku diskriminasi," ujar peneliti LSI, Adjie Alfaraby di kantor LSI, Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Minggu (23/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan 93,04 persen setuju semua etnis diperlakukan sama," ucapnya.
Hanya 9,15 % warga yang setuju agama mayoritas harus diperlakukan lebih istimewa dan 5,22 % setuju suku mayoritas juga diperlakukan istimewa. Bahkan dalam survei itu, agama minoritas seperti Hindu dan Protestan menjawab 100 % semua agama diperlakukan sama.
"Katolik menjawab 94,93 %, Islam 82,63 %, dan lainnya 83,33 %. Agama mayoritas juga tidak setuju adanya diskriminasi," jelasnya.
Hanya minoritas kecil saja dari publik Indonesia yang membenarkan kekerasan diskriminasi atas warga Indonesia lainnya. "Jika dihitung, jumlahnya di bawah 10 persen dan lebih banyak ditemui di kalangan pendidikan rendah dan ekonomi lemah," kata Adjie.
(tfq/rmd)











































