Jamal, pedagang sate yang sehari-hari berjualan di depan SDN 04 dan 08 Kebon Sirih, Jl H Agus Salim, Menteng, Jakarta Pusat, mengaku sempat 'mengungsi' saat banjir datang. Dia tak bisa memarkirkan gerobak, apalagi berjualan selama hampir 4 jam.
Menurut Jamal, air datang sekitar pukul 15.00 WIB seiring dengan hujan deras yang melanda kawasan tersebut. Tinggi air di jalanan bisa mencapai pusar orang dewasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jamal mengaku tak pernah melihat luapan air yang begitu besar sepanjang 30 tahun berjualan di lokasi tersebut. Bahkan dia mengilustrasikan genangan air sama dengan ombak di laut.
"Pas banjir saya tarik (gerobak) ke dalam SD, abisnya kaya laut ombaknya. Apalagi kalau mobil lewat, jadinya saya tutup aja. Jam 19.20 WIB saya baru jualan lagi," ceritanya.
Meski sudah ada perbaikan gorong-gorong tahun lalu, banjir di Sarinah tetap tak bisa cepat surut. Jamal pun heran dengan situasi tersebut.
"Tahun 2002 dan 2007 hampir sama tapi ini bisa cepet turunnya air. Saluran-saluran abis dibetulin, lama juga dibetulinnya lima bulanan. Tapi dibetulin banjir-banjir juga," keluhnya.
Dengan adanya banjir, pendapatan Jamal pun semakin turun. "Dulu bisa sampai Rp 400-500 ribu per hari, sekarang cuma Rp 100 ribu aja susah," curhatnya.
(mad/trw)










































