"Sekarang ini yang paling penting adalah perilaku dan budaya tertib berlalu lintas. Paling penting!" ujar Jokowi.
Jokowi mengatakan itu usai salat Jumat di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (21/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di perempatan tidak saling sodok. Tapi kalau ramai ya nunggu, sehingga orang yang lewat diberi misalnya anu terlebih dahulu," kata Jokowi yang mengenakan kemeja putih dan sandal jepit ini.
Eks Walikota Solo ini menuturkan, budaya tertib masyarakat memang harus dimulai dari hal yang kecil. Sopir-sopir angkutan juga diminta untuk tidak sembarangan berhenti di jalan.
"Misalnya di terminal bayangan. Haltenya kurang, di mana-mana ya haltenya kurang," kata ayah 3 anak ini.
Jokowi pun menambahkan, pengguna angkutan umum harus naik atau turun di halte. Sopir angkutan umum juga harus menurunkan penumpang di halte. Begitu juga dengan pengguna mobil pribadi.
"Penumpangnya ini kadang-kadang pengen turun di depan gangnya, di depan rumahnya. Tidak mau turun di halte. Sopirnya juga sama, pengen ngangkut orang tidak di halte, tapi pengen ngambil orang di sembarang tempat. Mobil
pribadi juga sama. Kita lihat sudah jelas lampu merah, macet, tapi terus, karena pengen nyampe di rumah cepat. Nah yang ini-ini perlu waktu, proses, kampanye, semuanya," ucap lulusan Fakultas Kehutanan UGM ini.
(nik/nrl)











































