Seperti diketahui, kawasan Thamrin-Sudirman adalah kawasan perkantoran dan sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi. Sedangkan Orchad Road di Singapura penuh etalase mal dan pusat perdagangan.
"Saya baru tahu ada ide seperti itu," kata Novi salah seorang karyawati perusahaan swasta di Jalan Jenderal Sudirman, saat ditemui detikcom Kamis (20/12/2012) malam.
Novi mengaku ragu dengan ide dari Jokowi itu dapat terealisasikan. Alasannya, jalan-jalan di sekitar Thamrin-Sudirman sudah amat sangat padat, tidak seperti Orchad Road.
"Di sana tidak macet, tapi di sini setiap hari macet. Jadi beda banget," terangnya.
Selain itu, lanjut Novi, sepengetahuan dirinya Orchad Road adalah kumpulan mal-mal dan pusat perdagangan lainnya. Bahkan cafe-cafe di Negeri Singa itu dapat membuka restoran dan makanan di pinggir jalan.
"Kalau kita kan penuh dengan pusat perkantoran," terangnya.
Lain halnya dengan Tri (28). Pria ini mengharapkan jalan-jalan di Jakarta, khususnya Thamrin-Sudirman dapat dinikmati seperti di Orchad Road. Salah satu yang harus dibenahi adalah arus kendaraan yang melintasi wilayah itu.
"Kalau macet jam kerja dan pulang kerja, bagaimana bisa kayak Orchad Road?" ucapnya.
Pantuan detikcom, sekitar pukul 17.30 WIB, arus kendaraan di Thamrin-Sudirman sangat padat dan bahkan nyaris tidak bergerak pada jam-jam tertentu. Tidak hanya macet, polusi suara dari mesin kendaraan dan suara klakson membuat wilayah Thamrin-Sudirman masih kalah jauh dibandingkan Orchad Road.
Selain itu, jalan utama di Jakarta ini masih penuh dengan pedagang kaki lima. Detikcom mencoba melintasi jalan Thamrin-Sudirman sekitar pukul 22.00 WIB, tepatnya di Bundaran HI. Di kawasan itu tidak hanya penuh dengan warga pada malam harinya, juga penuh dengan pedagang kopi keliling.
Beberapa sudut lainnya seperti di Sarinah, lalu di bawah fly over Sudirman juga terlihat banyak pedagang kaki lima dan jalan trotoar sepanjangan Thamrin-Sudirman. Pemandangan-pemandangan itu yang tidak didapatkan di Orchad Road.
(tfq/ndr)











































