"Maaf saya bukan-buka handphone, bukan apa-apa, ini ada kabar tiga anggota polisi meninggal di Poso. Itulah bagian risiko menjadi anggota polisi," ucap Nanan tanpa mengucapkan belasungkawa.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara di seminar 'Relasi Negara dan Agama dalam Sistem Demokrasi, Problematika Ngara Dalam Menangani Intoleransi Agama', di Aula Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (20/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka tetap standby di sana, ya harusnya sampai dengan selesai," katanya.
Di Desa Kalora kerap terjadi baku tembak dan pelemparan bom terhadap aparat saat akan menangkap kelompok teror, apa tidak dikepung saja kalau alat buktinya cukup?
"Sudah, pasti sudah dikerjakan oleh mereka (personel Brimob). Tapi kan belum ketangkap semua. Mudah-mudahan ini bisa berhenti," jawab Nanan.
Nanan menambahkan, pihaknya membutuhkan dukungan masyarakat guna menyelesaikan konflik teror yang kerap membayangi Poso.
"kita butuh dukungan dari masyarakat, maksudnya bukan dukungan nangkapi, tapi dukungan informasi kemudian hal-hal yang bisa menyetop mereka berbuat," kata Nanan.
Sebelumnya, tiga personel Brimob Polda Sulteng gugur dalam baku tembak dengan kelompok teror. Mereka adalah Briptu Wayan Putu Ariawan, Briptu Winarto, Briptu Ruslan. Sementara tiga personel lainnya mengalami luka tembak, mereka adalah Briptu Eko Wijaya Sumarno, Briptu Lungguh Anggara, Briptu Siswandi.
(ahy/ndr)










































