"Pak Totok mintanya survei untuk melihat bagaimana opini masyarakat di sana terhadap berbagai masalah Buol jelang Pemilukada," kata Saiful yang dihadirkan sebagai saksi terdakwa Amran di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (20/12/2012).
Saiful mengaku tidak mengetahui jabatan Totok di PT HIP. "Selama ini saya mengenalnya sebagai orang Ibu Hartati, posisi persis saya nggak tahu," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim kemudian melakukan survei pada 1-10 Februari 2012 dengan dana Rp 300 juta yang sumber uangnya berasal dari Totok. "Survei standar kita lakukan assesment bagaimana masyarakat menilai bagaimana pandangan masyarakat," sambungnya.
Hasilnya posisi Amran cukup bagus dibanding pesaingnya. "Dibanding lawan cukup bagus selisih jauh, tapi saya bilang ini belum aman sebagai incumben," tuturnya.
Saiful mengakui diminta kembali untuk melakukan survei kedua. "Bulan Juni 2012 awal Pak Totok kontak saya minta lagi survei dan minta jadi penasihat untuk Pak Amran. Sempat juga Pak Amran telepon membenarkan permintaan Pak Totok," akunya.
Saiful yang tengah berada di AS pada pertengahan Juni dilaporkan hasil survei kedua oleh asistennya. "Hasil survei lawan Pak Amran mengalami kemajuan pesat," imbuhnya.
Amran yang kecewa dengan hasil survei itu akhirnya membatalkan rencana pendampingan oleh Saiful selama 2 minggu. " Nilai survei Rp 150 juta, tadinya Rp 300 juta untuk pendampingan Pak Amran selama 2 minggu, tp mungkin karena ada kesalahpahaman Pak Amran tidak berkenan dengansurvei," ujar dia.
Hakim anggota I Made Hendra bertanya mengenai kepentingan Totok untuk melakukan survei terhadap Amran. "Persisnya saya tidak tahu. Dia bilang inginsampaikan aspirasi ke Pak Amran. Misalnya kondisi keamanan baik atau buruk, ketertiban baik atau buruk, suka apa nggak sama bupati," jelas Saiful.
"Kepentingannya Totok kok besar, apa penyebabnya?" tanya Made Hendra. "Saya tidak tahu yang mulia," kata Saiful.
(fdn/lh)











































