BNPB: Tingkat Kesiapsiagaan Bencana Masyarakat Masih Rendah

BNPB: Tingkat Kesiapsiagaan Bencana Masyarakat Masih Rendah

Prins David Saut - detikNews
Kamis, 20 Des 2012 13:05 WIB
BNPB: Tingkat Kesiapsiagaan Bencana Masyarakat Masih Rendah
Bangunan hancur akibat gempa bumi. (Ilustrasi/detikcom)
Jakarta - Berdasarkan evaluasi penanggulangan bencana tahun 2012, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan tingkat kesiapsiagaan bencana masyarakat masih rendah. Padahal potensi bencana di Indonesia termasuk tinggi.

"Hasil kajian BNPB terhadap kesiapsiagaan masyarakat dan Pemda dalam menghadapi bencana di 33 provinsi di Indonesia ternyata semua daerah menunjukkan hasil bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan Pemda masih rendah," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam jumpa pers 'Evaluasi Penanggulangan Bencana Tahun 2012' di Gedung BNPB, Jalan Juanda No 36, Jakarta Pusat, Kamis (20/12/2012).

Sutopo menjelaskan indikator pengetahuan bencana telah meningkat tetapi indeks kebijakan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini, dan mobilisasi sumber daya masih rendah. Hal ini menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ancamannya menunjukkan tren meningkat, namun kesiapsiagaan masih rendah. Akibatnya jumlah korban dan kerugian akibat bencana juga berpotensi meningkat di masa mendatang jika tidak ada perubahan signifikan," ujar Sutopo.

BNPB juga menguraikan kendala yang sering terjadi di daerah. Mulai dari sumber daya manusia yang terbatas hingga masalah sosial yang terjadi di Indonesia seperti kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah.

"SDM terbatas, baik kualitas maupun kuantitas. Dari 399 BPBD yang sudah terbentuk, sebagian besar belum memiliki kantor dan belum ada pusat pengendali operasi yang bekerja 24 jam dalam seminggu. Logistik dan peralatan yang masih terbatas. Politik lokal dan minimnya dukungan legislatif. Luasnya cakupan wilayah rawan bencana dan akses yang terbatas. Terakhir, masih banyak masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, kemiskinan, terbatasnya pendidikan kebencanaan, dan minimnya sistem peringatan dini," tutup Sutopo.

(vid/rmd)


Berita Terkait