Perayaan Tahun Baru di Jateng Dibayang-bayangi Cuaca Ekstrem

Perayaan Tahun Baru di Jateng Dibayang-bayangi Cuaca Ekstrem

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 19 Des 2012 17:57 WIB
Semarang -

Perayaan Hari Raya Natal 2012 dan Tahun Baru 2013 di Jawa Tengah diperkirakan diguyur hujan. Bahkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah menyatakan ada kemungkinan cuaca ekstrem.

Kepala BMKG Jateng Bambang Nova Styanto mengatakan, perayaan Natal dan Tahun Baru bertepatan dengan puncak musim hujan dan diprediksi akan diguyur hujan pada siang dan malam hari.

"Tidak menutup kemungkinan cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang atau puting beliung dan petir," kata Bambang usai rapat Koordinasi Lintas Sektoral Jelang Natal dan Tahun Baru di Mapolda Jateng, Jl Pahlawan Semarang, Rabu (19/12/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cuaca ekstrem dimungkinkan terjadi karena di beberapa daerah masih memasuki musim pancaroba. Daerah yang diperkirakan intensitas hujannya paling tinggi adalah Brebes, Cilacap, Banyumas.

"Jepara, Grobogan, dan Pati itu langganan genangan dan banjir sementara Cilacap ke Utara, Brebes ke Cirebon rawan longsor," ujar Bambang.

"Tapi seluruh daerah bisa berpeluang cuaca ekstrem," tandasnya.

Meski demikian masih ada kemungkinan prakiraan cuaca berubah karena waktu yang diprediksikan masih lama. Bambang melanjutkan, pihaknya baru bisa memastikan kondisi cuaca yang akan dialami suatu daerah pada dua hari sebelum cuaca tersebut terjadi.

"Prakiraan hujan prediksi dua hari sebelum kejadian. Lalu tiga jam sebelum kejadian kami bisa beritahu di mana saja titik yang akan mengalami cuaca ekstrem. Kami bisa beri info lewat SMS atau runing teks ke dinas terkait," jelas Bambang.

Dengan adanya prakiraan cuaca ekstrem saat perayaan Natal dan Tahun Baru, Bambang mengimbau kepada masyarakat agar lebih waspada saat melintas di jalan licin dan rawan longsor ketika hujan.

"Ya hati-hati saat melintas di tempat licin dan rawan longsor. Yang pasti sedia payung sebelum hujan," tuturnya.

Sementara itu terkait isu badai matahari yang berlangsung tanggal 21 Desember mendatang, menurut Bambang, hal itu adalah siklus 11 tahun sekali yaitu ketika blind spot atau titik di matahari yang tidak panas menghadap ke bumi.

"Artinya pemanasan kurang. Kita belum lari ke sana (badai matahari), menunggu kantor pusat bagaimana. Tapi Indonesia tidak kena kok," tutup bambang.

(alg/trw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini