"UPS di tower itu tahun 1996. Ada dua, diparalel, satu rusak. Lalu di-back-up UPS baru.
Karena satu lama satu baru, akhirnya jalan primer dan sekunder. PT AP sudah lakukan pengadaan, ganti semuanya, tapi baru datang Januari 2013," kata konsultan PT AP II Pekik Dahono.
Hal ini disampaikan Pekik dalam jumpa pers Ikatan Auditor Teknologi Indonesia (IATI) 'Menyoroti Masalah Electrical Failure pada Menara ATC Bandara Soekarno-Hatta dan Perlunya Audit Manajemen Teknologi Pengelolaan ATC di Indonesia' di Gedung BPPT, Jalan HM Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk ngeceknya masih bagus atau rusak itu susah. Orang mau ngutak-ngatik takut, jadi cuma dicek panas atau tidaknya. Kalau pertama failed, akan berpindah. Tapi karena meledak dan mengenai controller yang mengatur perpindahan beban ikut terbakar, sehingga beban tidak bisa pindah ke UPS secondary. Jadi harus dipindah secara manual, karena otomatisnya rusak. Pemindahan manual butuh 15 menit," jelas Pekik.
Pengajuan pengadaan 9 UPS baru dari Jerman, tambah dia, sudah dari Maret 2012 lalu. Tapi baru ada Januari 2013. Pula, UPS bukan barang gudang yang bisa distok, jadi harus dipesan dahulu baru dibuat. Proses pembuatannya, 6 bulan.
"Kondisinya saat ini sudah diganti baru tapi masih sementara, insya Allah bisa menghandle sampai Januari tahun depan. Yang rusak kemarin UPS produk AS. Yang kita pesan ini dari Jerman, totalnya Rp 18 miliar sebanyak kira-kira 9 unit, dua di antaranya untuk tower (ATC). Dananya dari PT AP," jelas dia.
Seperti diberitakan sebelumnya pada pukul 16.55 WIB, Minggu (16/12) radar Bandara Soekarno-Hatta mati yang mengakibatkan 64 jadwal penerbangan terganggu, karena penerbangan dari dan ke Bandara Soekarno-Hatta ditutup.
Penerbangan dari dan ke Bandara Soekarno-Hatta dibuka kembali sekitar pukul 19.00 WIB setelah sistem radar kembali normal.
(nwk/nrl)










































