Diskusi tersebut digelar di Ballroom Hotel Le Meridien, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (19/12/2012). Diskusi ini bertema
"Dialog Perjuangan: Memperkokoh NKRI dan Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat".
Hadir sebagai pembicara dalam acara ini di antaranya Letjen TNI (Purn) Sayidiman Soeryohadiprodjo, Jenderal Pol (Purn) Awaludin Jamin, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, Laksamana TNI (Purn) A Sujipto, Marsdya TNI (Purn) Ian Santoso, dan Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri.
Dalam pidatonya, Ical mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia telah mencapai point of return. Indonesia telah tercatat sebagai negara demokrasi ketiga terbesar dunia setelah AS dan India, sehingga menjadi tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas kehidupan demokrasi di tanah air.
"Kita berharap reformasi sistem politik yang telah dan tengah berlangsung juga mendorong lahirnya budaya politik kewargaan yang demokratis dan partisipatoris. Kita tidak ingin reformasi dan demokratisasi terjadi hanya di level superfisial saja," ujar Ical.
Menurut Ical, saat ini political engagement dan kultur politik rakyat masih rendah. Ical tidak ingin demokrasi justru melahirkan anomali-anomali dan berharap pilihan demokrasi dapat memungkasi kegaduhan dan ketidakteraturan yang disebabkan rendahnya kultur demokrasi negeri ini.
"Hal ini penting saya tekankan mengingat realitas politik yang ada dewasa ini lebih diwarnai oleh kegaduhan politik di mana yang menonjol adalah intrik-intrik politik, politicking, bahkan fitnah politik, dan sangat sedikit kita jumpai adanya perdebatan konseptual di kalangan elit bangsa ini. Padahal sejatinya perdebatan konseptual itulah yang harus dikedepankan, bila kita ingin menjadikan demokratisasi sebagai jembatan menuju kesejahteran rakyat dan kemajuan bangsa," paparnya.
Hingga pukul 12.00 WIB acara diskusi masih berlangsung.
(ega/rmd)











































