"Pertama begini, tentang RUU Keantariksaan sudah dibuat di Prolegnas. Masing-masing komisi kan mengejar RUU yang harus diselesaikan. Tinggal satu hutang kami, RUU Keantariksaan," kata Sutan Bhatoegana di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (18/12/2012).
Sutan menerangkan kunker itu dilakukan pada 10-16 Desember 2012. Ada 11 anggota DPR, termasuk dirinya, dan empat perwakilan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah putuskan, sudah rapatkan, ada satu negara paling maju, yaitu Amerika. Kita kan pernah melihat satelit palapa yang dibuat Amerika. Kemudian, kita cari negara yang mirip kita dipilihlah Brazil," papar Sutan.
Sutan mengatakan kunker yang dilakukan dalam pembahasan RUU Keantariksaan ini perlu dilakukan karena tak ada referensi di Indonesia. Para ahli yang telah ditemui sebelum Komisi VII DPR berangkat juga merekomendasikan untuk melakukan kunjungan ke luar negeri.
"Majunya suatu negara itu kan harus ada keantariksaan, kita punya satelit tapi nggak punya undang-undangnya makanya nggak maju-maju. Kita ini masih belum banyak mengerti, makanya kita perlu melakukan kunker ini," imbuhnya.
(tor/lh)










































