5 Momen Saat SBY Menitikkan Air Mata

5 Momen Saat SBY Menitikkan Air Mata

Niken Widya Yunita - detikNews
Selasa, 18 Des 2012 12:09 WIB
5 Momen Saat SBY Menitikkan Air Mata
Jakarta - Presiden juga manusia. Wajar bila kemudian sesekali Presiden SBY menitikkan air mata kala menjumpai hal-hal yang mengharukan.

Berikut momen saat SBY menangis seperti dirangkum detikcom, Selasa (18/12/2012):

1. Nonton 'Habibie & Ainun'

SBY menitikkan air mata kala menyaksikan film 'Habibie & Ainun'. SBY tidak kuasa menahan tangisnya karena melihat kisah Habibie dan Ainun yang romantis sekaligus menginspirasi.

Suasana haru ini terlihat usai pemutaran perdana film 'Habibie & Ainun' di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (17/12/2012).

SBY juga mengajak hadirin di acara itu untuk mengheningkan cipta untuk Ibu Ainun Habibie yang sudah berpulang.

"Sebelum saya menyampaikan satu dua patah kata, pada kesempatan baik penuh rasa haru ini, saya ajak Saudara mengheningkan cipta dan berdoa pada Ibu Ainun, semoga hidup tenang di sisi Allah, mari kita berdoa dengan khusyu," ajak SBY.

SBY terlihat mengelap wajahnya dengan sapu tangan. Setelah itu, suami Ani Yudhoyono itu berpidato. Suaranya terdengar lirih.

2. Saksikan Video Perjalanan Hidup Chairul Tanjung

SBY menangis tatkala menyaksikan tayangan audio visual yang merupakan replika dari perjalanan pemilik Transcorp Chairul Tanjung dari gang kumuh di Jakarta hingga akhirnya sukses dengan berbagai bidang usahanya. Poin-poin dari tayangan audio visual itu diambil dari buku Chairul Tanjung si Anak Singkong yang disusun oleh wartawan Kompas Tjahja Gunawan Diredja.

"Saya pun ikut meneteskan air mata melihat panjangnya perjuangan Bung Chairul. Ini membenarkan tesis bahwa tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan kesuksesan," ujar SBY dengan mata berkaca-kaca dalam peluncuran buku Chairul Tanjung di Trans Convention Center, Bandung, Sabtu (30/6/2012).

Ketika naik ke panggung, tampak mata sang kepala negara memang sempat berkaca-kaca.

Di mata SBY, Chairul memang sosok pekerja keras. Keduanya pertama kali saling mengenal pada tahun 2002 di PBSI.

Chairul kala itu menjabat sebagai ketua dan SBY berposisi sebagai dewan pembina.

SBY menyebut kisah hidup Chairul yang terjal tak beda jauh dengan perjalanan hidupnya dari keluarga sederhana di Pacitan Jawa Timur. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu mengingatkan Chairul agar jangan melupakan masyarakat kelas bawah, di tengah kesuksesannya saat ini.

"Melihat kisah tadi, saya juga sama, saya berasal dari Pacitan. Ketika Allah sudah memberikan banyak hal, maka jangan lupa untuk membantu masyarakat yang membutuhkan," ujar SBY.

Dalam tayangan audio visual berdurasi sekitar 15 menit itu, diceritakan secara ringkas mengenai bagaimana kerasnya kehidupan Chairul kecil, prestasinya di sekolah, sampai akhirnya berhasil masuk di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Di tahap itu, sang ibunda Halimah harus rela menggadaikan kain kesayangannya untuk menambah uang biaya masuk ke 'Kampus Kuning'. Chairul juga harus bekerja serabutan untuk membayar biaya kuliah.

3. Melayat Ali Alatas

SBY tidak bisa membendung air matanya pada malam Jumat 11 Desember 2008. Kala itu SBY melayat di kediaman almarhum mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Demikian juga Ibu Ani Yudhoyono, butiran air mata terus membasahi pipi Ibu Negara.

Karena sedang menangis, sebelum jumpa pers untuk mengucapkan rasa bela sungkawa atas wafatnya Ali Alatas, SBY sempat memalingkan mukanya dari pers, dan meminta sapu tangan kepada sang istri untuk menyeka hidungnya yang sembab.

Lantas, SBY pun dengan suara datar menceritakan jasa-jasa Ali Alatas semasa hidup. Bagi SBY, Ali alatas adalah sosok ing ngarso sung tulodho, alias orang yang selalu memberi contoh yang baik saat menjadi pemimpin.

4. Hari Ultah Polri

Presiden SBY dan Kapolri kala itu Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) berlinang air mata di hari jadi ke-63 Polri. SBY menangis saat memberikan penghargaan dan tali kasih pada Rabu (1/7/2009) pada 7 anggota Polri yang terluka saat bertugas.

Di tayangan layar monitor, terlihat mata SBY yang menyeka air matanya. Terlihat juga mata Kapolri BHD yang berkaca-kaca.

Adapun tujuh orang anggota Polri itu adalah;

1. Bripka Eko Hari Cahyana, anggota Brimob Mabes Polri. Dia mengalami cacat di bagian wajah akibat tertembus peluru ketika melakukan penyergapan panglima GAM di pedalaman NAD.

2. Briptu Tholib, anggota Brimob Mabes Polri. Lengan kirinya putus ketika menjinakkan bom high explosive di
Aceh Barat. Terguncang mendengar kabar tersebut, istrinya yang sedang hamil 5 bulan pun mengalami keguguran.

3. Bripka Doni Tobing, anggota Polda Papua. Tangan kanannya terpaksa diamputasi akibat kecelakaan dalam tugas mendamaikan perang suku di pedalaman Papua.

4. Briptu Musrifan, anggota Polres Mamasa, Sulsel. Sekujur tubuhnya mengalami luka bakar akibat tersengat listrik dan tertimpa reruntuhan bangunan saat menyelamatkan seorang anak (7) dan kakek (60) dari rumah yang terbakar. Akibat luka parah yang dialaminya, Musrifan mengalami koma selama 1 bulan di ICU.

5. Bripka Teguh Wira Kusuma, anggota Satlantas Polres
Bandung. Dia tertabrak mobil saat menghentikan pelanggar lalu lintas. Akibat kecelakaan itu kakinya harus diamputasi.

6. Bripka Zakaria, anggota reskrim Polda Metro Jaya. Dia tertembak 11 peluru saat menyergap komplotan perampok ATM di Bandung.

7. Aiptu Suratijo, anggota reserse Polwil Yogyakarta. Dia mengalami cacat hingga harus beraktivitas di atas kursi roda akibat tulang belakang dan paru-parunya tertembus peluru saat baku tembak dengan kelompok pelaku kejahatan.

5. Hari Agraria

SBY terharu tatkala menyaksikan prosesi penyerahan sertifikat hak milik dari Kepala BPN kala itu yakni Joyo Winoto pada 10 orang petani yang mewakili 5041 kepala keluarga di 4 desa di Cilacap.

Bahkan ketika menyampaikan pidato sambutannya, SBY masih terharu. Di bagian awal sambutan, suaranya tersendat dan kedua matanya terlihat memerah.

"Rakyat harus menjadi tuan tanah yang memiliki tanah dan air yang terkandung di dalamnya. Kalau tanah kitaΒ  distribusikan dan gunakan secara tepat, maka keadilan niscaya rakyat rasakan," kata SBY dalam puncak peringatan 50 Tahun Agraria Nasional di Istana Bogor, pada 21 Oktober 2010. SBY bahkan meminta maaf karena suaranya tersendat akibat rasa haru.
Halaman 2 dari 6
(nwy/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads