Dalam catatan detikcom, sedikitnya ada lima pernyataan keras Ruhut ke Anas. Sebaliknya, Anas tak mau membalasnya dengan perang terbuka. Anas memilih diam, sambil melakukan tindakan tegas dengan memecat Ruhut di kepengurusan DPP PD.
Berikut lima pernyataan keras Ruhut ke Anas:
Ruhut: Anas Malu dong Nggak Mundur
|
|
"Aku tetap mau Anas harus mundur daripada dimundurkan partai, kita tunggu saja," kata Ruhut, Senin (17/12/2012).
"Dengarkan Pak SBY, malau dong Anas harusnya setelah Bapak bilang kita nggak akan menang. Kemarin Foke kalah di Jakarta, semua Pilkada yang dia turun kalah loh. Tapi dia sesumbar terus menang," kata Ruhut.
"Anas bilang target (suara) 30 persen, terus Bapak bilang target 15 persen saja. Terus bapak bilang nanti akan ada konsolidasi lagi, berarti kemarin di Sentul nggak dianggap konsolidasi dong," lanjut Ruhut.
"Aku dulu pasang badan buat Anas, tapi begitu dia bermasalah, aku yang pertama jatuhkan," katanya.
Ruhut: Anas Dikipasin Badut-badutnya
|
|
"Itu pasti karena dia (Anas -red) dikipasin badut-badutnya itu," kata Ruhut, Jumat (14/12/2012).
"Kalau gua yang menilai, (pencopotan) ini malah makin kelihatan kalau dia bersalah," ujarnya.
"Gua yang menjadikan dia, gua mengkritik dia juga. Di era demokrasi, yang dikedepankan seharusnya kalau salah bilang salah," sambung Ruhut berapi-api.
"Selama bukan SBY yang ngomong, nggak gua anggap. Gua anggap kumur-kumur aja," pungkas Ruhut.
Ruhut: Anas Gali Lubang Sendiri
|
|
"Kalau Anas nggak mundur, Demokrat pasti kalah. Lihat saja, dia saat ini sedang menggali lubangnya sendiri," ujar Ruhut, Jumat (15/12/2012).
"Kalau sanksi hukum bisa selesai. Tapi kalau hukum sosial, sampai berapa keturunan itu akan kena terus. Itu kakek kau koruptor. Sampai cucu-cucunya juga akan nanggung," lanjutnya mantan praktisi hukum ini.
"Saya sangat mencintai Partai Demokrat. Mungkin bukan pertama tapi yang terakhir. Lihat ini, siapa yang berani memakai ini ke mana-mana," kata mantan politisi Partai Golkar ini memamerkan pin Partai Demokrat di jasnya.
Ruhut: Anas Jangan Main Api dengan KPK
|
|
"Kami ingin bersih-bersih kami mohon pada ketua umum kalau tidak bisa ikut aturan karena kita tegas, lebih baik mundur karena kita tidak toleran terhadap korupsi," kata Ruhut Sitompul, Sabtu (8/12/2012).
"Kan begini kita kalau mau, kita nggak bisa (mengelak) negara kita negara hukum. Jadi kalau sudah ada dua alat bukti yang cukup ciduk saja. Tolong jemput bola, dan Andi sudah contohnya," ujarnya.
"Pak SBY sudah tegas, buka semuanya, jadi silakan diungkap biar terbuka semua," tegasnya.
"Lucu memang, Andi kan sudah kita dengar sebelumnya (dalam sidang Nazar), rata-rata memang begitu semuanya begitu. Jadi kalau aku begini, siapapun yang disebut oleh Nazar semua harus legowo mundur. Aku maunya ada kepastian sanksi hukum daripada sanksi sosial," ucap anggota komisi III itu.
"Kalau nggak tahu malu jangan main api nanti terbakar, KPK dibentuk itu atas kehendak rakyat. Selama on the track KPK kita dukung," ungkapnya.
Ruhut: 2 Kali Diperiksa KPK, Anas Harus Mundur
|
|
"Sudah dua kali diperiksa, dia belum mundur juga. Karena itu, kuminta legowo mundur sementara. Ini sanksi sosial, sanksi sosial itu dibawa mati loh," kata Ruhut, Kamis (5/7/2012).
"Anas salah atau dia benar karena apa pun sanksi sosial sudah sangat menurunkan citra PD. Tidak mungkin citra ini bisa naik kembali tanpa peran Pak SBY," katanya.
"Anas katakan tidak terlibat tapi Mayor Jenderal Ignatius Mulyono menyatakan itu ada. Saya mohon KPK yang sangat dicintai rakyat silakan tunjukkan profesionalisme, kami tidak akan melindungi kader kami yang bermasalah hukum," tandasnya.
Halaman 2 dari 6











































