"Kita baru 16 titik sampelnya, padahal pasar di Jakarta Utara sampai 38 pasar, jadi itu baru separuh. Kita khawatirnya berita-berita di luar, di Jakarta Utara yang langsung dibawa ke tingkat lebih tinggi. Padahal Jakarta Utara masih dalam masa pembinaan, belum seperti Jakarta Selatan dan Jakarta Barat yang betul-betul meresahkan," kata Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Sudin Peternakan Jakarta Utara, Nasir, pada detikcom, Selasa (18/12/2012).
Nasir menambahkan Jakarta Utara belum sampai pada kasus pencampuran daging sapi dan daging babi menjadi sebuah makanan yang dijual bebas ke masyarakat. "Jakarta Utara belum sampai situ, bahkan kemasannya saja belum ada, karena mereka pakai kantong plastik kresek," ujar Nasir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengambilan sample itu tidak akan pernah diberitahu kapan, di mana, dan giliran siapa. Saya juga akan terus mengawasi," ujar Nasir.
Upaya ini dilakukan karena melihat kasus Yono di Pasar Anyar Bahari. Nasir memperkirakan pemilik sampel daging yang telah digiling di Pasar Anyar Bahari, yang terindikasi mengandung daging babi, bukanlah Yono.
"Kalau terindikasi kan ada patokannya. Walau dalam kondisi kecil, tapi kan sebelum Pak Yono ini kan berarti besar. Soalnya dari sampel Pak Yono komposisinya hanya 6,25 persen, jadi yang menggiling sebelum dia," ujar Nasir.
Seperti yang diketahui, Sudin Peternakan Jakarta Utara menemukan satu dari 16 sample daging oplosan untuk bakso yang mengandung daging babi pada Rabu (12/12) lalu. Sampel tersebut diambil dari Yono saat menggiling daging untuk warung baksonya di tempat penggilingan milik Surono di Pasar Anyar Bahari.
(/)










































