Pendukung Amien-Gus Dur Tetap Nyoblos, Golput Menciut
Rabu, 22 Sep 2004 17:03 WIB
Jakarta - Berdasarkan pemantaun yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), ketakutan akan bertambahnya jumlah golput pada pilpres putaran II, tidak terbukti. Justru dibandingkan putaran I, golput pilpres II jauh lebih sedikit.Demikian dikatakan oleh Tatak Prapti Pujiati dari Divisi Penelitian LP3ES mengumumkan hasil risetnya dalam jumpa pers di Hotel Borobudur, Jl.Lapangan Banteng, Jakpus, Rabu (22/9/2004). Turut hadir adalah Direktur LP3ES, Imam Ahmad, Wakil Direktur E.Sobirin Nadj, dan M.Husein.Dari pemantaun di 1.909 TPS yang dilakukan secara acak di semua provinsi, menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pemilih (voter turn out) diperkirakan mencapai 80,6%. Jadi hanya sekitar 19,4% pemilih yang terdaftar, tidak memilih. Ditambah juga 2,4% suara tidak sah."Jadi pada pemilu kali ini golput lebih rendah dibandingkan pilpres I yang mencapai 30% lebih," kata Tatak.Sobirin menambahkan, menurunnya jumlah golput ini disebabkan beberapa hal, antara lain, pendukung Amien Rais yang dikhawatirkan golput, tetap memilih. Kedua, keluarga NU yang diperkirakan terpengaruh Gus Dur untuk golput, ternyata sama dengan putaran I, mereka cenderung menggunakan hak pilihnya."Jadi ketakutan terjadinya golput besar-besarn tidak terbukti," tandas Sobirin.Berdasarkan pemantuan LP3ES juga, pilpres II berlangsung relatif lebih baik dibandingkan putaran I. Lebih baik karena secara penyelenggaraan, putaran I banyak kendala seperti masalah tinta dan coblos tembus. Putaran II, masalah teknis itu tidak muncul. Intimidasi terhadap pemilih pada putaran II juga lebih rendah.Lebih lanjut berdasarkan data LP3ES, sebanyak 70% dari TPS yang dipantau, sama sekali tidak ditemukan adanya penyimpangan dalam proses pemungutan dan penghitungan suara. Hanya 29% yang ditemui adanya penyimpangan ringan dan hanya 1% yang ditemui adanya penyimpangan dan kecurangan."Namun tidak berarti pemilu di TPS tersebut tidak berlangsung jujur dan adil," kata Tatak.
(nrl/)











































