"Konsumen harus dilindungi, dan kasus ini harus segera direspon," kata Musni saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (15/12/2012).
Musni menjelaskan efek snow ball yang dimaksud adalah, jika isu bakso babi ini terus bergulir maka yang akan dirugikan adalah para pedagang bakso jujur. Pendapatan mereka akan berkurang, karena konsumen berhenti mengkonsumsi bakso, akhirnya banyak pedagang yang gulung tikar dan menganggur. Banyaknya pengangguran akan berdampak pada meningkatnya kriminalitas
"Dampaknya sangat besar bagi masyarakat, pendapatan pedagang bakso jujur bisa berkurang," ucap Musni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya menyarankan kepada para aparat untuk segera bertindak jangan sampai berefek snow ball," ucap doktor bidang sosiologi pembangunan Universitas Kebangsaan Malaysia ini.
Kasus bakso babi kembali ramai setelah Polda Metro Jaya dan Seksi Pengawasan dan Pengendalian Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan mengerebek sebuah kios yang menjual bakso daging babi. Di dalam kios sederhana yang beralamat di Jalan Damai, Kelurahan Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu terdapat puluhan kilogram daging babi. Ditemukan daging babi 50 kg dan daging yang sudah diolah menggunakan tepung 15 kg.
Saat digerebek, terdapat seorang pemilik kios, Eka, dua orang karyawan kios dan dua orang pembeli bakso bernama Bahirun dan Suryono. Kedua pembeli bakso tersebut mengaku tidak mengetahui bahwa bakso yang mereka beli merupakan campuran daging babi.
Sementara itu, Suku Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Jakarta Utara menemukan satu tempat penggilingan bakso yang menggunakan daging babi.
Pemilik kios penggilingan dan pelaku pengoplosnya belum ditemukan. Temuan di Pasar Anyar Bahari, Tanjung Priok, ini merupakan yang pertama.
(slm/rvk)










































