Golkar 'Muntahkan' Julukan untuk Fahmi Cs

Golkar 'Muntahkan' Julukan untuk Fahmi Cs

- detikNews
Rabu, 22 Sep 2004 15:36 WIB
Jakarta - Spekulan politik, penumpang gelap, bunglon, pengecut, munafik, bandit menjadi hero. Berbagai julukan itu 'dimuntahkan' orang-orang Golkar kepada Fahmi Idris cs. Emosi nih?"Ungkapan orang-orang itu (Fahmi cs) merupakan langkah spekulan politik, seperti penumpang gelap dari kemenangan orang lain. Karena proses pemecatan mereka bukan karena mereka tidak setuju pada putusan rapim, tapi karena tindakan mereka memecah belah organisasi."Demikian kata jubir Partai Golkar Ferry Mursyidan Baldan dalam jumpa pers di Gedung DPR/MPR Jakarta, Rabu (22/9/2004)."Pernyataan mereka merupakan upaya pembodohan pada Partai Golkar oleh orang-orang yang mengaku demokrat, dan memanfaatkan kemenangan orang lain, serta menampilkan diri sebagai orang yang paling berjasa pada kemenangan tersebut. Itu namanya bunglon," tukasnya.Menurut Ferry, proses lima tahun ke depan adalah ujian untuk Partai Golkar. Pihaknya akan berusaha menunjukkan dalam menyajikan parlemen yang baik."Kita tidak akan kehilangan kesetiakawanan pada kondisi sulit, dan kita sudah teruji untuk ini. Kita yakin, dengan kesolidan, kita bisa hadapi langkah-langkah yang memecah itu," ujarnya."Untuk informasi, saya menerima 800-900 SMS yang membenarkan pemecatan dari orang-orang di bawah. Jangan mentang-mentang mantan pejabat, lalu merasa tidak bisa dipecat dari partai," tandas Ferry.Fungsionaris DPP Partai Golkar Akil Muchtar juga menuding Fahmi cs sebagai bandit yang menjadi hero dengan memutarbalikkan fakta."Masyarakat yang bisa menilai mereka itu seperti apa dan datang dari kelompok bagaimana. Saya melihat mereka sebagai bandit yang menjadi hero dengan memutarbalikkan fakta," tukasnya.Menurut dia, reaksi yang muncul dari Fahmi cs yang menuntut Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung segera mundur dikarenakan sudah kehilangan jawaban. Sehingga dibawa pada pertarungan pribadi yang berimbas pada Golkar."Mereka sadar posisinya sudah di bawah dan harus menciptakan manuver politik untuk mendongkrak popularitas. Jadi cenderung asbun (asal bunyi). Saya lihat mereka sebagai politisi yang berpengalaman tidak menunjukkan tindakan yang seperti seharusnya," ujar Akil.Kalau dilihat persoalan organisasi dibawa ke persoalan pribadi, menurutnya, hal itu merupakan gambaran kepanikan dari tindakan mereka yang tidak sistematis."Mereka memanfaatkan situasi agar orang-orang memusuhi Ketua Umum (Akbar). Padahal di forum Rapim, mereka tidak pernah menyuarakan pendapat itu. Itu kan menunjukkan mereka pengecut dan munafik," katanya."Partai tidak akan besar bila tidak ada sistem yang mendukung. Jatuh bangunnya Golkar tidak bisa ditentukan segelintir orang, tetapi ditentukan dari basis yang kuat," demikian Akil. (sss/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini