Fahmi Beberkan Bukti-bukti Akbar Stres Saat Ambil Keputusan

Fahmi Beberkan Bukti-bukti Akbar Stres Saat Ambil Keputusan

- detikNews
Rabu, 22 Sep 2004 14:37 WIB
Jakarta - Memang enak dipecat? Rasa tidak enak itulah yang dialami Fahmi Idris. Dia bahkan balik meminta Akbar Tandjung mundur dari ketua umum Partai Golkar. Fahmi membeberkan sejumlah bukti bahwa Akbar sering stres saat mengambil keputusan. Pembeberan bukti-bukti ini disampaikan Fahmi Idris - ketua DPP Partai Golkar yang dipecat Akbar cs - saat bertemu dengan para pimpinan redaksi media massa di Hotel Four Seasons, Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Rabu (22/9/2004). Saat menjamu pimpinan media massa, Fahmi tampak terlihat santai. Tidak ada gayanya yang berubah, meski dia baru saja dipecat. Fahmi yang mengenakan kemeja warna putih dan berkacamata itu tidak menampakkan wajah yang tegang. Pada kesempatan itu, Fahmi membuka sejumlah persoalan di tubuh Golkar sejak Akbar memimpin. Antara lain, kata Fahmi, pada 3 Oktober 1999, Akbar pernah mengkhianati keputusan Rapim Golkar. "Rapim memutuskan untuk mendukung BJ Habibie. Tapi, pada tanggal 3 Oktober 1999, Akbar mengenyamingkan keputusan Rapim dan mengatakan akan mendukung Mega dalam suatu pertemuan tertutup dengan pimpinan Golkar, termasuk saya, di sebuah hotel," kata Fahmi. "Waktu itu, saya dan Pak Theo (Sambuaga) tidak setuju. Keputusan untuk mendukung Mega harus diketuk di Rapim. Tapi, tidak berapa lama kemudian, Akbar berubah lagi dan malah mendukung Gus Dur. Dan akhirnya, Gus Dur yang naik menjadi presiden," ungkapnya. Hal yang sama terjadi pada saat pemilihan wakil presiden. "Saat itu, Akbar mengirimkan utusan kepada SBY dan akan mendukung SBY. Di saat yang sama, dia juga mengirim utusan kepada Agum dan juga menyatakan akan mendukung Agum. Eh ternyata, dia sendiri yang maju menjadi cawapres. Dan akhirnya dia kalah," ujarnya. Lantas, apa arti dari semua itu? Menurut Fahmi, keputusan Akbar yang berubah-ubah itu menunjukkan bahwa Akbar stres. "Ini menunjukkan bahwa Akbar stres dalam mengambil keputusan, karena tidak mendengarkan suara mayoritas, tapi suara dia sendiri. Akbar itu berani, tapi beraninya berani malu," kata Fahmi sedikit meledek. Hal yang mirip, kata Fahmi, terulang lagi saat pemilihan presiden 2004. "Dulu, Akbar menyatakan akan mengubah kepemimpinan nasional. Tapi, kemarin dia malah mendukung pemerintah sekarang. Untung saya dan kawan-kawan berdiri dan menolak keputusan itu. Kalau tidak, Golkar akan runtuh keseluruhannya. Kalau dengan begini, kan masih ada yang berdiri sebagian, saya dan kawan-kawan," kata dia. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads