"Sebenarnya nggak ada daging babi, cuman orang-orang itu curang aja. Kalau bisa jangan begitu, karena kita saja sudah kesulitan sama harga yang mahal," kata salah satu pedagang daging di Pasar Anyar Bahari bernama Mumu saat ditemui di kiosnya, Jumat (14/12/2012).
Isu daging babi oplosan yang ditemukan Sudin Peternakan Jakarta Utara di dekat pasar tersebut menurunkan pemasukan Mumu dan rekan-rekan sesama pedagang daging di pasar itu. Dua hari terakhir daging yang berhasil dia jual terus menurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sisa dagangan sebanyak 150 kilogram daging sapi tersebut membuat omzet Mumu menurun hingga 40 persen. Mumu mengaku penurunan tersebut baru ia alami pertama kali sejak berjualan daging 10 tahun lalu.
"Satu hari omzet Rp 20 juta, sekarang turun jadi Rp 14 juta. Sudah lama jualan di sini sekitar 10 tahun baru sekali mengalami ini, ditambah masalah harga juga yang tinggi," ujar Mumu berkesah.
Mumu menjelasan para pembeli daging di Pasar Anyar Bahari memang rata-rata penjual baso dan ibu rumah tangga. Namun, ia meyakini tidak ada pedagang yang mengoplos dengan daging babi di pasar tersebut.
"Pembeli di sini semuanya langganan, mayoritas kalau pagi pedagang bakso. Kalau siangnya ibu rumah tangga, pembeli biasa. Kita juga semuanya di sini nggak ada yang jual daging babi," ujar Mumu yang biasa membuka kiosnya dari pukul 03.00 WIB hingga 09.00 WIB.
Sebelumnya, baso oplosan yang bercampur daging babi ditemukan di Jakarta Selatan, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat. Untuk di Jakarta Utara, Sudin Peternakan Jakarta Utara menemukan sample daging baso olahan yang mengandung daging babi di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
(vid/lh)










































