Ini Kata Perangkat Desa Kenapa Mesti Blokir Tol: Kami Ingin Jadi PNS!

Ini Kata Perangkat Desa Kenapa Mesti Blokir Tol: Kami Ingin Jadi PNS!

Ahmad Juwari - detikNews
Jumat, 14 Des 2012 15:24 WIB
Ini Kata Perangkat Desa Kenapa Mesti Blokir Tol: Kami Ingin Jadi PNS!
Jakarta - Ribuan perangkat desa memblokir ruas tol dalam kota. Aksi pemblokiran ini terjadi dua kali, pagi dan siang. Aksi pagi hari yang memiliki dampak luar biasa. Kemacetan di mana-mana. Memblokir tol memang sudah tujuan mereka agar tuntutan jadi PNS dipenuhi.

"Ini biar tuntutan kita dipenuhi. Biar jadi PNS," tegas Bedjo (50), perangkat desa dari Magelang, Jateng, saat ditemui di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (14/12/2012) pukul 14.45 WIB.

Bedjo berangkat dari Magelang sejak Kamis (13/12). Dia sempat menginap di kawasan Senayan. Bedjo bersama rekan-rekannya dari Magelang ingin sejahtera seperti PNS di desanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senada dengan Bedjo, Slamet Wahyudi (42), perangkat desa asal Lamongan, Jawa Timur, juga ingin jadi PNS. Kehidupan dia selama ini amat pas-pasan. Mengandalkan tanah bengkok, hanya mendapat penghasilan sedikit, berbeda jauh dengan PNS.

"Biar diangkat jadi PNS, biar gajinya naik, setara dengan sekretaris desa. Selama ini gaji dari tanah bengkok, dari sawah milik desa. Penghasilannya nggak tentu, panen 3 bulan sekali dapat gabah 6 kuintal. Kalau dihitung hanya Rp 1,8 juta," terang ayah 3 anak ini.

Kehidupannya berbeda jauh dengan para PNS yang penghasilan per bulannya jauh di atas rata-rata dan bisa hidup sejahtera. Akhirnya dia bersama 55 orang rekannya di Lamongan datang ke Jakarta dengan bus untuk perbaikan hidup.

"Kalau dilihat dari baju kita punya pamor, tapi dari ekonomi morat marit," jelas Slamet yang mengenakan seragam coklat pamongpraja ini.

Lalu mengapa demo sampai blokir tol dan ricuh? "Rencananya sih tertib, saya perkirakan ada pihak ketiga yang menumpang kami, itu yang harus diusut," timpal Supriwanto, rekan Slamet dari Lamongan sambil berjalan menuju parkiran bus di Senayan. Mereka bubar setelah polisi menembakkan gas air mata yang membuat perih.

(ndr/ndr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini